Foto Jamaluddin Mariadjang
Jamaluddin Mariadjang
Sekjen
Foto HS. Alwi bin Saggaf Aljufri
HS. Alwi bin Saggaf Aljufri
Ketua Utama
Foto H.S. Mohsen Alaydrus
H.S. Mohsen Alaydrus
Ketua Umum
Khazanah
Home » Berita » Makna Lempar Jumrah: Jejak Nabi Ibrahim dan Pertarungan Melawan Hawa Nafsu

Makna Lempar Jumrah: Jejak Nabi Ibrahim dan Pertarungan Melawan Hawa Nafsu

Makna Lempar Jumrah

Jutaan kerikil melayang di Mina setiap musim haji, membentur tugu Jamarat dalam ritus yang gegap gempita. Namun, ironi yang mengusik nalar sering kali terjadi: ketika batu-batu fisik itu habis dilempar ke arah tugu, sang pelempar justru pulang membawa “berhala-berhala” baru yang bertahta dengan angkuh di dalam dadanya. Realitas umat hari ini menunjukkan betapa fasihnya kita mengutuk setan secara simbolik dan komunal, namun seketika tak berdaya saat iblis bermanifestasi secara kasat mata menjadi gaya hidup hedonis, keserakahan struktural, dan apati sosial yang menelusup ke ruang-ruang privat. Sebagai portal yang senantiasa berpijak pada nilai-nilai dakwah mencerahkan, ALKHAIRAAT memandang bahwa ritus purba ini menuntut pemaknaan ulang yang radikal, jauh melampaui sekadar kepatuhan pada gerakan jasmaniah semata.

Lintasan Sejarah: Batu yang Membungkam Keraguan

Sejarah mencatat bahwa syariat melontar jumrah lahir dari pergolakan batin yang luar biasa berat. Saat Nabi Ibrahim AS menerima perintah menyembelih putra kesayangannya, Ismail AS, iblis datang menyusupkan keraguan. Tidak hanya sekali, godaan itu datang bertubi-tubi menyasar Ibrahim, Siti Hajar, hingga Ismail sendiri di tiga titik berbeda yang kini dikenal sebagai Ula, Wustha, dan Aqabah. Atas perintah Jibril, Ibrahim mengambil kerikil dan melemparkannya ke arah manifestasi setan tersebut.

Tindakan melempar batu ini bukan sekadar upaya mengusir entitas fisik, melainkan deklarasi ketegasan iman. Sebagaimana dijelaskan oleh Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin, tujuan utama dari melontar jumrah adalah menundukkan hawa nafsu dan memperbudak ego, sekaligus meniru ketaatan mutlak Sang Kekasih Allah (Khalilullah). Gerakan fisik melempar batu membangkitkan memori otot dan spiritual bahwa penolakan terhadap kebatilan membutuhkan usaha sadar yang terus-menerus. Filosof Islam, Ali Shariati, dalam mahakaryanya tentang Haji, turut menegaskan bahwa kerikil-kerikil tersebut adalah peluru yang ditembakkan manusia untuk membunuh sifat-sifat kebinatangan di dalam dirinya. Tanpa kesadaran filosofis ini, ibadah yang agung tersebut hanya akan tereduksi menjadi rutinitas mekanis yang menyisakan kelelahan fisik tanpa pencerahan jiwa.

Permusuhan abadi antara manusia dan tipu daya setan ini telah digariskan dengan sangat tegas oleh Sang Pencipta.

إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا ۚ إِنَّمَا يَدْعُو حِزْبَهُ لِيَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيرِ

Seri Haul HS Saggaf Aljufri: Merawat Amanah, Melanjutkan Cahaya Perjuangan-5

“Sungguh, setan itu musuh bagimu, maka perlakukanlah ia sebagai musuh, karena sesungguhnya setan itu hanya mengajak golongannya agar mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.” (QS. Fatir: 6)

Mengenali “Jumrah” di Era Kiwari

Jika Nabi Ibrahim menghadapi iblis yang memprovokasi kasih sayang kebapakan untuk melawan perintah Tuhan, manusia modern berhadapan dengan godaan yang bermutasi dalam bentuk yang lebih subtil. Makna lempar jumrah yang sejati mengharuskan kita mengidentifikasi dan melontar “setan-setan” kontemporer, yang wujudnya bisa meliputi:

  • Ego dan Narsisme Rasional: Merasa diri paling benar dan memandang rendah kelompok lain, yang kerap memicu perpecahan di tengah umat.
  • Materialisme Mengakar: Menjadikan harta dan jabatan sebagai sesembahan baru, mengorbankan integritas demi akumulasi kekayaan.
  • Apatisme Kemanusiaan: Hilangnya kepekaan terhadap penderitaan sesama, di mana simpati hanya sebatas interaksi semu di layar gawai tanpa aksi nyata.
  • Hawa Nafsu Instan: Kecenderungan mencari jalan pintas dalam segala hal, dari validasi sosial hingga pencapaian ekonomi, yang sering berujung pada pelanggaran syariat.

Kontekstualisasi Perjuangan Melawan Kebodohan

Perlawanan tanpa kompromi terhadap segala bentuk kebatilan ini sejatinya telah dicontohkan secara nyata oleh tokoh-tokoh pembaharu, termasuk Al-Habib Idrus bin Salim Al-Jufri atau Guru Tua. Bagi Guru Tua, “jumrah” terbesar masyarakat di masa penjajahan adalah kebodohan, keterbelakangan, dan imperialisme yang menindas martabat kemanusiaan. Beliau tidak melempar kerikil, melainkan melempar ide, membangun madrasah, dan menyemai ilmu pengetahuan sebagai senjata mutakhir untuk membebaskan umat dari belenggu ketidaktahuan.

Pendidikan yang digagasnya adalah bentuk perlawanan permanen terhadap tipu daya kebodohan yang kerap ditunggangi oleh kekuatan tiran penjajah. Guru Tua mengajarkan bahwa selama hawa nafsu kemalasan dan keputusasaan tidak dilontar jauh-jauh dari relung hati umat Islam, maka kemerdekaan yang hakiki baik secara fisik maupun intelektual tidak akan pernah tercapai. Keteladanan ini adalah wujud nyata dari pelaksanaan syariat melempar jumrah dalam panggung sejarah yang lebih luas.

Menjadikan Setiap Hari Sebagai Medan Lontar

Batu kerikil di Mina hanyalah medium temporal. Pertarungan yang sesungguhnya justru baru dimulai ketika kaki melangkah keluar dari Tanah Suci atau saat manusia bangkit dari sajadah peluh kesehariannya. Medan lontar itu senantiasa berwujud riil di meja kerja, di ruang-ruang diskusi terbuka, di dalam bisingnya pasar, dan bahkan di kedalaman hati yang paling sunyi. Memahami makna ibadah ini berarti menyiagakan diri secara utuh dalam arena kehidupan.

Seri Haul HS Saggaf Aljufri: Merawat Amanah, Melanjutkan Cahaya Perjuangan-4

Setiap kali hawa nafsu berbisik halus untuk berbuat zalim, menunda sebuah kebaikan, atau sekadar merendahkan martabat orang lain, saat itulah tangan batin kita harus segera merengkuh “kerikil” ketakwaan dan melontarkannya dengan penuh keyakinan tauhid. Pada akhirnya, kemenangan seorang hamba bukan dinilai dari seberapa keras batu-batu kerikil itu terlempar ke udara, melainkan seberapa hancur berhala ego dan kesombongan yang sempat bersemayam di dalam dada kita.