PALU, ALKHAIRAAT – Malam Keakraban Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Alkhairaat (UNISA) Palu, atau dikenal sebagai makrab, sukses digelar pada 26/09/2026.
Mengusung tema “Panggung Literasi FKIP UNISA Palu”, kegiatan ini menjadi ruang penting bagi mahasiswa untuk merawat nalar, menyalakan gagasan, dan menyatukan langkah.
Pembukaan Makrab dengan subtema “Merawat Nalar, Menyalakan Gagasan dan Menyatukan Langkah Mahasiswa FKIP UNISA Palu” ini bertempat di halaman Kampus II UNISA Palu, Jalan Karanjalembah, Desa Kalukubula, Kabupaten Sigi. Acara dibuka oleh Kepala Biro Kemahasiswaan UNISA Palu, Ridwan Laki, yang mewakili Wakil Rektor III.
Simbolis pembukaan makrab ditandai dengan penanaman pohon Manohara. Aksi ini merupakan bagian dari gerakan penghijauan kampus, sekaligus menegaskan bahwa pendidikan tidak hanya berfokus pada ruang kelas, namun juga mencakup tanggung jawab mahasiswa terhadap lingkungan.
Ridwan Laki menekankan pentingnya kegiatan ini sebagai momentum bagi mahasiswa FKIP untuk membangun karakter, kepemimpinan, kreativitas, dan kepedulian sosial. Mahasiswa dituntut tidak hanya memiliki kemampuan akademik, tetapi juga mampu merawat nalar dan bekerja bersama.
“Mahasiswa bukan hanya dituntut memiliki kemampuan akademik, tetapi juga harus mampu merawat nalar, melahirkan gagasan dan bekerja bersama. Karena itu, Makrab ini jangan berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi menjadi ruang pembentukan karakter dan kepemimpinan mahasiswa,” kata Ridwan Laki, Kepala Biro Kemahasiswaan UNISA Palu.
Penanaman pohon dalam rangkaian makrab membawa pesan penting tentang kepedulian lingkungan. Menurut Ridwan, pohon yang ditanam menjadi simbol gagasan baik yang harus ditanam, dirawat, dan dijaga agar memberikan manfaat.
Dosen penanggung jawab kegiatan, Dedi Siswanto, menjelaskan bahwa makrab dirancang dengan empat pilar filosofis utama. Pilar tersebut meliputi merawat nalar, menyalakan gagasan, menyatukan langkah, dan membangun kebudayaan ekologis, yang menjadi dasar penting bagi acara ini.
“Merawat nalar berarti mahasiswa dibiasakan berpikir kritis dan reflektif. Menyalakan gagasan berarti memberikan ruang bagi mahasiswa untuk berkreasi. Menyatukan langkah mengajarkan pentingnya kolaborasi, sementara kebudayaan ekologis menanamkan kecintaan terhadap budaya lokal Alkhairaat sekaligus kesadaran menjaga lingkungan,” jelas Dedi Siswanto, Dosen FKIP UNISA Palu.
Rangkaian kegiatan hari pertama makrab mencakup pemasangan tenda, pembukaan, penanaman pohon, serta pembentukan kelompok dan latihan pentas. Selanjutnya, mahasiswa mengikuti kegiatan penghijauan, materi dasar kepemimpinan, pentas malam, pemutaran film “Gie”, serta diskusi dan refleksi.
Pada hari kedua, kegiatan dilanjutkan dengan game zone, awarding, dan penutupan dengan pesan utama “Menyatukan Langkah”. Dedi menegaskan bahwa pemutaran film dan diskusi adalah bagian vital dalam membangun tradisi literasi di kalangan mahasiswa, memberikan pengalaman berharga bagi peserta makrab.
“Literasi bukan hanya membaca buku. Literasi juga bagaimana mahasiswa membaca realitas, memahami persoalan masyarakat, berdiskusi, menyampaikan gagasan dan mengambil pelajaran dari pengalaman,” jelas Dedi Siswanto, Dosen FKIP UNISA Palu.
Ketua BEM FKIP UNISA Palu, M. Galang Andika Pradisti, menyatakan bahwa Panggung Literasi merupakan momentum bagi mahasiswa FKIP untuk membangun budaya berpikir dan berorganisasi. Ia berharap makrab ini menjadi ruang saling mengenal dan menguatkan gagasan antar mahasiswa.
“Kami ingin Makrab ini menjadi ruang bagi mahasiswa untuk saling mengenal, tetapi juga saling menguatkan dalam gagasan. Mahasiswa FKIP harus berani berpikir, berdiskusi dan menyampaikan gagasan dengan cara yang konstruktif,” kata M. Galang Andika Pradisti, Ketua BEM FKIP UNISA Palu.
Ketua Panitia Makrab, Saif Raja Khan, menambahkan bahwa seluruh rangkaian kegiatan dirancang untuk memberikan pengalaman komprehensif. Pengalaman ini mencakup keakraban, kepemimpinan, kreativitas, literasi, dan kepedulian lingkungan bagi seluruh peserta.
“Makrab ini bukan sekadar seremonial. Kami ingin mahasiswa mendapatkan pengalaman bagaimana bekerja dalam kelompok, memimpin, berkomunikasi, menyelesaikan persoalan dan menghasilkan sebuah karya,” ujar Saif Raja Khan.
Penanaman pohon Manohara menjadi simbol penting yang mengajak mahasiswa melihat lingkungan sebagai bagian kehidupan yang harus dijaga. Dedi Siswanto juga menekankan konsep kebudayaan ekologis, mengingat peran calon pendidik dalam membangun kesadaran lingkungan. Iwanlaki

