Layar gawai kini telah mengambil alih peran mimbar tradisional. Ribuan fatwa, potongan ceramah agama, hingga tafsir instan berhamburan setiap detiknya di linimasa media sosial, memicu sebuah fenomena paradoksial di mana akses informasi keagamaan melimpah namun kedalaman pemahaman justru kian dangkal.
Bagi ALKHAIRAAT, realitas siber ini memicu rentetan pertanyaan mendasar: bagaimana memastikan ruh pengajaran Islam tidak menguap di tengah disrupsi teknologi yang bergerak secara beringas tanpa jeda? Institusi pendidikan saat ini sedang diuji keras untuk tidak sekadar berlari mengejar ketertinggalan teknologi, melainkan menjaga maruah nilai-nilai sakral dari komersialisasi dan banalitas konten digital.
Keresahan ini jelas bukan tanpa alasan logis. Anak-anak muda dari generasi Z dan Alpha hari ini bisa dengan luar biasa mudah mengakses puluhan kitab klasik dalam genggaman tangan, belajar tata bahasa Arab melalui aplikasi interaktif, hingga menyimak kajian dari ulama besar di berbagai belahan benua.
Sayangnya, segala kemudahan akses tersebut datang dengan harga yang teramat mahal. Ilmu agama yang didapat secara instan kerap kehilangan esensi utamanya: keberkahan, proses panjang menaklukkan ego, dan pembinaan akhlak. Mempelajari agama dari mesin pencari tanpa bimbingan seorang guru seolah meminum air laut; semakin diminum, semakin menambah kehausan dan kebingungan.
Sanad Keilmuan yang Tak Tergantikan Barisan Kode Algoritma
Sebuah algoritma kecerdasan buatan mungkin mampu menjawab kompleksitas persoalan fikih puasa atau waris hanya dalam hitungan detik. Akan tetapi, deretan mesin itu tidak akan pernah sanggup memberikan kehangatan keteladanan, kasih sayang, dan doa tulus yang biasa dipanjatkan seorang guru untuk muridnya di sepertiga malam.
Sejak awal mula berdirinya, visi pendidikan yang ditanamkan oleh sosok Sayyid Idrus bin Salim Al-Jufri, atau yang lebih akrab disapa Guru Tua, bertumpu kuat pada interaksi jiwa antara pendidik dan peserta didik. Guru Tua merancang kurikulum madrasahnya tidak semata untuk mencetak manusia-manusia cerdas secara rasional, tetapi manusia yang berjiwa besar, tahan banting, dan beradab.
Mengutip pandangan sosiolog dan filsuf Muslim kontemporer, Syed Muhammad Naquib al-Attas, masalah krisis terbesar umat Islam saat ini adalah fenomena loss of adab (hilangnya adab). Hal ini bermula dari kekacauan masif dalam meletakkan ilmu pengetahuan dan tokoh panutan pada tempat yang benar.
Tanpa kehadiran sosok guru yang memandu, proses transfer informasi keagamaan di belantara internet hanya akan memproduksi debat kusir, penyebaran hoaks, dan intoleransi beragama. Di sinilah posisi sentral guru menemukan pijakannya kembali; sebagai penyaring informasi sekaligus arsitek pembentuk karakter.
Spirit menjaga kejernihan informasi dan kehati-hatian dalam menerima berita ini sejatinya amat sejalan dengan teguran keras Al-Qur’an. Allah SWT telah memberikan panduan agar umat Islam senantiasa memverifikasi kebenaran sebelum menjadikannya landasan bertindak:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ
Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu. (QS. Al-Hujurat: 6)
Langkah Strategis Merawat Tradisi di Tengah Arus Inovasi
Menyikapi gelombang gempuran disrupsi ini, transformasi digital di ranah pendidikan tidak boleh ditafsirkan sebagai bentuk pergeseran peran manusia oleh mesin. Teknologi semestinya diposisikan secara ketat sebagai pelayan yang mempermudah urusan operasional, bukan majikan yang menentukan arah kebenaran. Untuk tetap tangguh dan relevan di gelanggang modernitas, lembaga pendidikan Islam perlu meletakkan fondasi transformasi yang berorientasi pada nilai-nilai kemanusiaan:
- Menjadikan Literasi Digital sebagai Dimensi Akhlak Modern: Peserta didik masa kini wajib dibekali keterampilan tingkat tinggi untuk memvalidasi sanad sebuah informasi, mengenali jejak digital yang beracun, dan menggunakan etika santun saat berdiskusi di ruang siber. Literasi bukan lagi sekadar baca-tulis teks, melainkan ketajaman menyaring kebenaran di era banjir informasi.
- Digitalisasi Masif Warisan Karya Ulama: Lembaga pendidikan perlu berpacu dengan waktu untuk mengarsipkan karya-karya monumental Guru Tua dan ulama nusantara lainnya ke dalam wujud perpustakaan daring, manuskrip digital, serta media interaktif agar spiritnya tetap hidup melintasi generasi tanpa sedikit pun mereduksi substansinya.
- Melahirkan Tenaga Pendidik Penggerak Dakwah Kreatif: Menghadapi munculnya profesi-profesi baru yang kian menggiurkan minat anak muda, ada urgensi yang tak bisa ditunda untuk mendorong regenerasi guru. Guru masa depan tidak hanya dituntut fasih membedah struktur gramatika kitab kuning, namun juga piawai meracik konten dakwah yang relevan, menyejukkan, dan mampu memikat nalar generasi penduduk asli digital (digital native).
Proyeksi Masa Depan: Menyalakan Lentera Pengabdian
Menatap horizon ke depan, kebesaran dan kekuatan institusi pendidikan setua dan sebesar Alkhairaat tidak akan pernah dinilai semata dari seberapa mutakhir infrastruktur peladen (server) yang mereka miliki. Nilai kebesaran sesungguhnya diukur dari ketangguhan institusi tersebut merawat jati diri secara konsisten.
Ketika dunia di luar sana semakin bising oleh perdebatan nir-makna dan runtuhnya otoritas keilmuan akibat ulah pseudo-ulama di media sosial, masyarakat dari lapisan terbawah hingga teratas nyatanya semakin haus akan oase keteladanan. Oase penyejuk tersebut hanya bisa lahir dan dibentuk dari rahim madrasah yang dengan keras kepala terus menghidupkan tradisi adab sebelum mengajarkan rupa-rupa ilmu.
Lompatan teknologi adalah sebuah keniscayaan peradaban yang harus ditaklukkan dengan perahu ilmu dan kompas iman yang lurus.
Lembaga pendidikan Islam sejatinya tengah mendapatkan momentum keemasan untuk membuktikan kepada dunia, bahwa setinggi apa pun lompatan kecerdasan buatan, ia akan jauh lebih berdampak nyata apabila selalu dioperasikan di bawah kendali manusia-manusia yang tunduk pada nilai-nilai ketuhanan.
Warisan terbesar dari peradaban Islam bukanlah tegaknya gedung-gedung megah berlapis kaca, melainkan berdenyutnya nadi para guru yang tanpa lelah menyalakan pelita pengabdian untuk menerangi jalan umat menuju Sang Pencipta. NURDIANSYAH


