Menjaga Rumah Besar Bernama Alkhairaat
Ketika persatuan menjadi amanah, maka setiap perbedaan semestinya bermuara pada ishlah, bukan pada perpecahan.
Rumah yang Dibangun dengan Keikhlasan
Rumah yang kokoh tidak selalu dibangun dari batu terbaik, tetapi dari pondasi yang kuat. Demikian pula ALKHAIRAAT. Sejak didirikan oleh Guru Tua, Alkhairaat tidak lahir dari kemewahan ataupun kekuasaan, melainkan dari keikhlasan seorang pendidik yang meyakini bahwa ilmu adalah jalan memuliakan manusia.
Dari ruang-ruang belajar yang sederhana, dari langkah kaki para guru yang menembus pelosok, dan dari doa-doa yang dipanjatkan dengan penuh ketulusan, tumbuhlah sebuah gerakan pendidikan yang kemudian menjadi rumah besar bagi jutaan Abnaulkhairaat di berbagai penjuru Nusantara, khususnya Indonesia Timur.
Rumah besar itu tidak dibangun hanya oleh satu generasi. Guru Tua meletakkan pondasinya. Para penerus, termasuk Almarhum Al-Habib S. Saggaf bin Muhammad Aljufri, memperluas bangunannya dengan menjaga ruh pendidikan, dakwah, dan persaudaraan. Karena itu, Alkhairaat bukan sekadar organisasi. Ia adalah rumah bersama yang diwariskan melalui pengorbanan, ilmu, dan doa.
Persatuan Adalah Warisan yang Paling Mahal
Banyak orang mengira bahwa warisan terbesar sebuah organisasi adalah gedung, tanah wakaf, lembaga pendidikan, atau jumlah anggotanya. Semua itu memang penting. Namun ada satu warisan yang nilainya jauh lebih tinggi, yakni persatuan.
Habib Saggaf berulang kali mengingatkan agar Alkhairaat tetap dijaga dalam bingkai kebersamaan. Beliau memahami bahwa organisasi sebesar Alkhairaat pasti akan menghadapi berbagai dinamika. Perbedaan pandangan merupakan sesuatu yang tidak mungkin dihindari. Akan tetapi, perbedaan tidak seharusnya berubah menjadi perpecahan yang menggerus kepercayaan umat.
Sejarah menunjukkan bahwa banyak lembaga besar tidak melemah karena tantangan dari luar, melainkan karena gagal mengelola perbedaan di dalam dirinya sendiri. Oleh sebab itu, menjaga persatuan bukan sekadar pilihan organisasi, melainkan amanah moral yang harus dipikul oleh seluruh keluarga besar Alkhairaat.
Ketika Perbedaan Menjadi Ujian Kedewasaan
Tidak dapat dipungkiri bahwa Alkhairaat saat ini sedang menghadapi dinamika internal yang menjadi perhatian banyak pihak. Beragam pandangan, sikap, dan langkah yang berkembang merupakan bagian dari kenyataan yang tidak bisa disembunyikan.
Namun di sinilah kedewasaan sebuah organisasi diuji.
Perbedaan hendaknya tidak dipahami sebagai alasan untuk saling menjatuhkan. Sebaliknya, ia perlu dikelola melalui musyawarah, kebijaksanaan, dan keluasan hati. Sebab setiap persoalan yang diselesaikan dengan kemarahan biasanya hanya akan melahirkan persoalan baru, sedangkan persoalan yang diselesaikan dengan kebesaran jiwa berpeluang melahirkan kematangan.
Momentum Haul ke-5 Habib Saggaf semestinya menjadi saat yang tepat untuk memperbarui komitmen terhadap ishlah (perdamaian dan rekonsiliasi). Islah bukan berarti menghilangkan perbedaan, melainkan menemukan titik temu demi menjaga amanah yang lebih besar daripada kepentingan pribadi atau kelompok.
Di Mana Seharusnya Posisi Abnaulkhairaat?
Di tengah berbagai dinamika, pertanyaan yang paling penting bukanlah siapa yang harus dibela, melainkan nilai apa yang harus dijaga.
Abnaulkhairaat adalah buah dari pohon yang ditanam oleh Guru Tua dan dirawat oleh para penerusnya. Karena itu, posisi Abnaulkhairaat seharusnya tidak berada di tengah pusaran yang memperuncing keadaan, melainkan menjadi peneduh yang menghadirkan kesejukan.
Abnaulkhairaat hendaknya menjaga amanah persaudaraan ini dengan menjadi:
- Penyambung silaturahim, bukan penyebar prasangka.
- Pembawa kabar baik, bukan penyebar berita yang belum jelas duduk persoalannya.
- Penjaga adab dalam menyampaikan pendapat, bukan pemburu kemenangan dalam perdebatan.
Media sosial hari ini sering kali menjadi ruang yang memperbesar emosi. Apa yang semestinya dapat dibicarakan dengan hikmah, justru berubah menjadi pertentangan yang disaksikan banyak orang. Dalam keadaan seperti ini, menjaga lisan, tulisan, dan sikap merupakan bagian dari menjaga marwah Alkhairaat itu sendiri.
Tidak semua persoalan harus dikomentari. Tidak semua perbedaan harus dipertontonkan. Ada kalanya diam yang bijaksana lebih bermanfaat daripada ucapan yang memperpanjang luka.
Ishlah Adalah Jalan yang Paling Mulia
Dalam sejarah Islam maupun perjalanan organisasi-organisasi besar, ishlah selalu menjadi jalan yang lebih mulia daripada mempertahankan pertikaian. Sebab kemenangan sejati bukanlah ketika satu pihak berhasil mengalahkan pihak lain, melainkan ketika semua pihak berhasil menjaga persaudaraan.
Sebagaimana ditegaskan oleh ulama besar Imam Al-Ghazali, menjaga hati dari sentimen perpecahan dan memprioritaskan ukhuwah Islamiyah adalah puncak dari adab beragama. Alkhairaat dibangun dengan semangat dakwah yang menyejukkan. Maka cara menyelesaikan persoalan pun semestinya mencerminkan nilai yang sama. Dialog yang santun, musyawarah yang jujur, penghormatan kepada para sesepuh, serta kesediaan mendengar satu sama lain merupakan pintu menuju penyelesaian yang bermartabat.
Perjalanan panjang Alkhairaat telah membuktikan bahwa organisasi ini mampu melewati berbagai ujian. Oleh karena itu, tidak ada alasan untuk pesimis. Selama semangat persaudaraan tetap menjadi pegangan, setiap tantangan selalu memiliki peluang untuk diselesaikan dengan baik.
Menjaga Nama Besar yang Telah Dibangun
Nama besar Alkhairaat tidak dibangun dalam hitungan tahun, melainkan puluhan tahun bahkan hampir satu abad. Ia tumbuh melalui pengabdian para guru yang mengajar tanpa pamrih, para ulama yang berdakwah dengan kelembutan, para santri yang belajar dengan kesungguhan, serta para alumni yang mengabdi di tengah masyarakat.
Karena itu, setiap langkah yang dilakukan hari ini hendaknya selalu mempertimbangkan bagaimana sejarah akan mencatatnya. Jangan sampai generasi mendatang mewarisi luka yang seharusnya dapat disembuhkan oleh generasi sekarang.
Menjaga nama baik Alkhairaat bukan hanya tugas pengurus. Ia adalah tanggung jawab seluruh keluarga besar Alkhairaat. Sebab ketika masyarakat memandang Alkhairaat, yang mereka lihat bukan hanya satu orang, melainkan wajah bersama dari seluruh Abnaulkhairaat.
Refleksi Spiritual: Persaudaraan yang Melampaui Kepentingan
Perbedaan pendapat boleh saja terjadi. Pergantian kepemimpinan juga merupakan sesuatu yang wajar dalam kehidupan organisasi. Namun semua itu tidak boleh menghapus ikatan persaudaraan yang telah dibangun oleh para pendahulu.
Habib Saggaf telah menunjukkan bahwa kepemimpinan adalah amanah yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab. Amanah itu tidak akan bermakna apabila persaudaraan justru menjadi korban dari perbedaan kepentingan.
Maka, pada Haul ke-5 ini, mungkin inilah saatnya seluruh keluarga besar Alkhairaat kembali mengingat bahwa rumah ini dibangun bukan untuk diwariskan dalam keadaan retak, melainkan dalam keadaan utuh kepada generasi berikutnya. Sebab rumah yang utuh akan menjadi tempat berteduh bagi banyak orang, sedangkan rumah yang dipenuhi pertikaian hanya akan membuat penghuninya kehilangan rasa nyaman.
Warisan terbesar seorang ulama bukanlah banyaknya pengikut, melainkan kemampuan para penerusnya menjaga persaudaraan ketika menghadapi perbedaan. Sebab ilmu akan terus tumbuh di dalam hati yang lapang, tetapi sulit bersemi di tengah hati yang dipenuhi prasangka. Semoga Haul ke-5 Almarhum Al-Habib HS. Saggaf bin Muhammad Aljufri menjadi momentum memperkuat ishlah, mempererat ukhuwah, dan mengembalikan Alkhairaat kepada semangat besar yang diwariskan Guru Tua: membangun manusia melalui ilmu, akhlak, dan kasih sayang.
Salam Nurani,
Palu, 5 Agustus 2026
“Persatuan bukan berarti tidak pernah berbeda, tetapi kemampuan untuk tetap bersaudara di tengah perbedaan. Sebab rumah yang dibangun dengan keikhlasan hanya akan tetap kokoh apabila setiap penghuninya lebih mengutamakan amanah daripada ego, dan lebih memilih ishlah daripada pertikaian.”
Oleh: SM Syams
Akademisi dan Pemerhati Refleksi Sosial Kemasyarakatan Palu


