Foto Jamaluddin Mariadjang
Jamaluddin Mariadjang
Sekjen
Foto HS. Alwi bin Saggaf Aljufri
HS. Alwi bin Saggaf Aljufri
Ketua Utama
Foto H.S. Mohsen Alaydrus
H.S. Mohsen Alaydrus
Ketua Umum
Khazanah
Home » Berita » Hari Lahir Pancasila: Pesan Rasulullah di Balik Merah Putih Guru Tua

Hari Lahir Pancasila: Pesan Rasulullah di Balik Merah Putih Guru Tua

Hari Lahir Pancasila

Buku sejarah nasional jarang mencatat pergulatan batin dan spiritualitas para ulama di balik perumusan identitas negara. Publik lebih sering dijejali ingatan tentang tanggal penting dan nama tokoh politik ketimbang narasi ruhani yang mengiringi tegaknya republik ini. Padahal, jika kita menelusuri literatur klasik dan catatan sejarah lisan keluarga besar ALKHAIRAAT, jalinan antara tegaknya nasionalisme dan keislaman tampak begitu pekat, khususnya menjelang detik-detik proklamasi kemerdekaan.

Peringatan Hari Lahir Pancasila tentu tidak sebatas pada romantisasi pidato kebangsaan Bung Karno pada 1 Juni 1945. Di balik perumusan dasar negara dan pemilihan identitas visual lambang bangsa, terdapat pertalian sejarah yang sangat kuat antara kaum pergerakan nasionalis dan para ulama, termasuk peran sentral Habib Idrus bin Salim Al-Jufri, atau yang masyhur disapa Guru Tua.

Titah Spiritual dari Sang Nabi

Fakta kesejarahan yang sering luput dari kurikulum sekolah terungkap mengenai pemilihan warna bendera Merah Putih. Narasi yang diyakini secara turun-temurun menyebutkan bahwa dwiwarna tersebut bukanlah kebetulan estetis semata, apalagi sekadar insiden merobek bendera kolonial. Warna agung ini bermula dari pesan spiritual tingkat tinggi yang diterima Guru Tua melalui ru’yah shadiqah (mimpi kebenaran) saat berjumpa dengan Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.

Pesan langit ini tidak disimpan sendiri sebagai rahasia pribadi. Sebagai wujud tanggung jawab ukhrawi dan kebangsaan, Sang Mutiara dari Timur segera meneruskannya kepada pimpinan ulama kharismatik Jawa, yakni Hadratussyaikh K.H. Hasyim Asy’ari. Melalui lisan pendiri Nahdlatul Ulama inilah, wangsit spiritual tersebut diusulkan secara langsung kepada Ir. Soekarno. Rangkaian peristiwa luar biasa ini menegaskan secara faktual bahwa identitas bendera dan jiwa dari dasar negara lahir dari rahim doa serta restu para pewaris nabi.

Syair Kemerdekaan: Bukti Otentik Cinta Tanah Air

Rekam jejak kecintaan Guru Tua terhadap Republik Indonesia terdokumentasi secara sempurna dalam karya agung Syair Merah Putih. Ditulis dalam bahasa Arab fasih untuk menyambut Proklamasi 17 Agustus 1945, bait-bait ini menjadi saksi bisu penghormatan tulus seorang ulama besar kepada pemimpin bangsanya. Berikut adalah petikan mahakarya tersebut:

Seri Haul HS Saggaf Aljufri: Merawat Amanah, Melanjutkan Cahaya Perjuangan-5

رَايَةَ الْعِزِّ رَفْرِفِي فِي سَمَآءٍ — أَرْضُهَا وَجِبَالُهَا خَضْرَآءُ

Wahai bendera kemuliaan, berkibarlah di angkasa. Bumi dan gunung-gunungnya menghijau.

إِنَّ يَوْمَ طُلُوْعِهَا يَوْمُ فَخْرٍ — عَظَّمَتْهُ الْأَبَآءُ وَالْأَبْنَآءُ

Sungguh hari kebangkitannya adalah hari kebanggaan. Orang-orang tua dan anak-anak memuliakannya.

كُلَّ أُمَّةٍ لَهَا رَمْزُ عِزٍّ — وَرَمْزُ عِزِّنَا الْحَمْرَآءُ وَالْبَيْضَآءُ

Seri Haul HS Saggaf Aljufri: Merawat Amanah, Melanjutkan Cahaya Perjuangan-4

Setiap bangsa memiliki simbol kemuliaan. Dan simbol kemuliaan kami adalah Merah dan Putih.

يَا سُوْكَارْنُو حُيِّيْتَ فِيْنَا سَعِيْدًا — بِالدَّوَآءِ مِنْكَ زَالَ الْعَنَآءُ

Wahai Bung Karno, engkau disambut bahagia di tengah-tengah kami. Dengan kebijakan dan kearifanmu hilanglah penderitaan.

Nilai Nasionalisme dalam Visi Pendidikan Alkhairaat

Untaian sajak di atas sama sekali bukan euforia kemerdekaan sesaat, melainkan manifestasi utuh dari ajaran Islam tentang hubbul wathan (mencintai tanah air). Sikap patriotik ini beresonansi kuat dengan doa Nabi Ibrahim ‘alaihissalam yang diabadikan dengan indah dalam Al-Qur’an tentang permohonan keamanan untuk sebuah negeri:

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَٰذَا بَلَدًا آمِنًا وَارْزُقْ أَهْلَهُ مِنَ الثَّمَرَاتِ

Seri Haul HS Saggaf Aljufri: Merawat Amanah, Melanjutkan Cahaya Perjuangan-3

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdoa: Wahai Tuhanku, jadikanlah negeri ini negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rezeki dari buah-buahan kepada penduduknya… (QS. Al-Baqarah: 126)

Praktik mencintai tanah air ini diejawantahkan secara revolusioner oleh Guru Tua melalui madrasah-madrasah yang didirikannya. Terdapat sejumlah poin penting bagaimana keteladanan Habib Idrus mengilhami spirit yang sama dengan Pancasila:

  • Ketuhanan yang Berakar: Penanaman akidah tauhid sebagai fondasi utama pendidikan, mencerminkan sila pertama yang menjadi suluh peradaban bangsa.
  • Keadilan Akses Ilmu: Membuka ruang belajar seluas-luasnya bagi seluruh lapisan masyarakat pedalaman tanpa diskriminasi ras maupun kasta, sebuah wujud nyata keadilan sosial.
  • Persatuan Umat: Menjadikan setiap lembaga pendidikan sebagai perekat ukhuwah wathaniyah (persaudaraan kebangsaan) yang mencegah disintegrasi di wilayah timur Indonesia.

Sebagaimana ditegaskan oleh ulama sekaligus sejarawan Prof. Ahmad Mansur Suryanegara dalam mahakaryanya Api Sejarah, eksistensi kemerdekaan bangsa Indonesia mustahil dilepaskan dari peran kiai, habaib, dan santri yang berdarah-darah di medan perang maupun berjibaku di ruang diplomasi. Narasi historis Guru Tua adalah bukti paling empiris dari kebenaran tesis tersebut.

Pijakan Merawat Ingatan Sejarah

Memperingati momen sakral kenegaraan menuntut setiap dari kita untuk melampaui batas seremoni formal yang kaku. Sejarah mencatat dengan tinta emas bahwa Merah Putih bukan sekadar hamparan kain berwarna yang dijahit begitu saja, melainkan sebuah panji kemuliaan yang dirajut dengan benang spiritualitas ketat dari visi kenabian, istikharah para ulama, dan keberanian para bapak bangsa. Mengabaikan kontribusi ulama sama halnya dengan memotong akar memori kolektif kita sendiri. Oleh karena itu, tugas terbesar generasi pewaris hari ini adalah merawat fondasi kuat tersebut dengan terus menggemakan narasi otentik yang kerap terpinggirkan. Keutuhan ideologi negara ini adalah amanat suci yang harus dijaga melalui pendidikan karakter, integritas moral, dan kesatuan tekad melangkah ke depan menjaga keutuhan republik.