Foto Jamaluddin Mariadjang
Jamaluddin Mariadjang
Sekjen
Foto HS. Alwi bin Saggaf Aljufri
HS. Alwi bin Saggaf Aljufri
Ketua Utama
Foto H.S. Mohsen Alaydrus
H.S. Mohsen Alaydrus
Ketua Umum
Khazanah
Home » Berita » Hari Buku Nasional 2026: Cara Merawat Pustaka Agar Bangsa Bermartabat

Hari Buku Nasional 2026: Cara Merawat Pustaka Agar Bangsa Bermartabat

Hari Buku Nasional 2026

Buku Terpinggirkan di Tengah Gempuran Layar Kaca

Jutaan orang sanggup menatap layar telepon genggam selama delapan jam sehari tanpa henti. Mata tidak berkedip, jari terus menggulir layar melihat berbagai video hiburan yang berganti dalam hitungan detik. Namun, untuk sekadar membuka satu halaman buku, rasa kantuk sering kali datang lebih cepat dari yang dibayangkan. Ini adalah ironi sekaligus tamparan keras yang kita hadapi di tengah kemajuan zaman. Menyambut peringatan Hari Buku Nasional 2026 yang mengusung tema agung “Merawat Pustaka, Memartabatkan Bangsa”, portal ALKHAIRAAT mengajak kita semua untuk kembali menengok tumpukan buku yang mungkin sudah mulai berdebu dan terlupakan di sudut rumah kita.

Tema tahun ini sebenarnya menyentil kesadaran paling dasar kita bahwa buku bukan sekadar tumpukan kertas bekas. Buku adalah nyawa sebuah peradaban dan jembatan menuju masa depan. Sebagaimana ditekankan oleh banyak pakar pendidikan nasional, krisis literasi adalah krisis jati diri. Ketika sebuah bangsa berhenti membaca, mereka kehilangan kemampuan berpikir kritis dan mudah diadudomba oleh berita bohong. Bangsa yang besar dan dihormati oleh dunia selalu dibangun oleh masyarakat yang rakus membaca dan haus akan pengetahuan.

Perintah Pertama yang Turun dari Langit

Jauh sebelum teori pendidikan modern digaungkan di sekolah-sekolah, agama Islam telah meletakkan fondasi literasi yang sangat kokoh. Hal ini terbukti dari wahyu pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Bukan perintah untuk berperang, membangun gedung megah, atau mengumpulkan harta kekayaan, melainkan perintah yang sangat sederhana namun berat maknanya: membaca. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Alaq ayat 1-5:

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ . خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ . اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ . الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ . عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Mahamulia. Yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.”

Mars Alkhairaat Bikin Merinding Kepala BI Sulteng Saat Kuliah Umum

Kumpulan ayat suci ini menjadi bukti nyata bahwa membaca, belajar, dan merawat ilmu adalah jalan utama untuk menjadi manusia yang bermartabat tinggi. Tanpa membaca, akal kita akan tumpul, mudah dibohongi, dan sulit membedakan mana yang benar dan mana yang salah.

Keteladanan Guru Tua dalam Menghidupkan Pengetahuan

Jika kita mencari sosok nyata yang mempraktikkan semangat merawat ilmu pengetahuan, kita tidak perlu mencari hingga ke luar negeri. Pendiri Alkhairaat, Habib Idrus bin Salim Al-Jufri atau yang lebih akrab disapa oleh masyarakat luas sebagai Guru Tua, telah membuktikan bagaimana ilmu bisa mengangkat harkat dan martabat masyarakat di pelosok negeri. Beliau rela menembus jalanan terjal, keluar masuk desa, mendirikan ribuan madrasah, dan mengajarkan kitab-kitab agama kepada masyarakat yang saat itu masih banyak yang buta huruf.

Bagi Guru Tua, setiap madrasah dan majelis taklim adalah “pustaka” hidup yang harus terus dirawat keberlangsungannya. Beliau sangat sadar bahwa kebodohan adalah akar utama dari kemiskinan dan penindasan. Melalui pendidikan yang diwariskannya dengan penuh keikhlasan, jutaan anak bangsa kini bisa berdiri tegak, mandiri, dan memiliki martabat yang mulia di tengah tantangan zaman yang semakin berat.

Langkah Nyata Merawat Pustaka untuk Orang Awam

Mendengar kata pustaka, banyak orang langsung membayangkan gedung perpustakaan yang besar, sepi, dan penuh dengan rak buku raksasa. Padahal, pustaka bisa dimulai dari langkah paling kecil di ruang tamu atau kamar tidur kita sendiri. Siapapun, terlepas dari apa pun profesi dan latar belakang pendidikannya, bisa ikut serta memartabatkan bangsa dengan langkah-langkah yang sangat sederhana dan mudah diterapkan sehari-hari:

  • Sisihkan waktu 10 menit sehari: Tidak perlu memaksakan diri membaca berjam-jam hingga sakit kepala. Cukup baca dua atau tiga halaman buku sebelum tidur atau saat sedang istirahat siang. Konsistensi adalah kuncinya.
  • Buat pojok baca di rumah: Kumpulkan buku-buku, majalah, atau koran yang ada, lalu tata dengan rapi di satu sudut rumah. Tempat yang bersih dan mudah dijangkau akan mengundang rasa penasaran anak-anak untuk duduk dan membacanya.
  • Bacakan cerita untuk anak: Daripada memberikan gawai saat anak sedang rewel, cobalah memangku mereka dan membacakan buku cerita tentang kisah para nabi atau pahlawan nasional. Ini akan menumbuhkan rasa cinta buku sejak usia dini.
  • Saling meminjamkan buku bacaan: Jika ada buku yang sudah selesai dibaca dan isinya bermanfaat, jangan ragu untuk meminjamkannya kepada tetangga, teman, atau kerabat dekat agar aliran ilmu tersebut tidak berhenti di rak Anda saja.

Refleksi Perjalanan Menuju Kematangan Akal

Buku sering kali disebut sebagai teman duduk yang paling sabar. Ia rela menanti kita membukanya kapan saja, tanpa pernah marah atau mengeluh kesepian. Momen bersejarah ini jangan sampai hanya lewat sebagai seremonial belaka, melainkan harus menjadi panggilan jiwa agar kita berani meletakkan telepon genggam sejenak. Merawat pustaka sejatinya berarti kita sedang merawat akal sehat, merawat warisan leluhur kita, dan memastikan anak cucu kelak tidak tumbuh menjadi generasi yang kosong jiwanya. Mari mulai mengambil satu buku dan membuka lembaran pertamanya hari ini, biarkan cahaya ilmu menuntun langkah kecil kita menuju peradaban bangsa yang jauh lebih terang dan dihormati.

Maulid Nabi di Alkhairaat: Mengenang Perjuangan dan Meneladani Akhlak Rasulullah