Foto Jamaluddin Mariadjang
Jamaluddin Mariadjang
Sekjen
Foto HS. Alwi bin Saggaf Aljufri
HS. Alwi bin Saggaf Aljufri
Ketua Utama
Foto H.S. Mohsen Alaydrus
H.S. Mohsen Alaydrus
Ketua Umum
Khazanah
Home » Berita » Seri Haul HS Saggaf Aljufri: Merawat Amanah, Melanjutkan Cahaya Perjuangan-4

Seri Haul HS Saggaf Aljufri: Merawat Amanah, Melanjutkan Cahaya Perjuangan-4

Habib Saggaf

Setelah Habib Saggaf, Alkhairaat Hendak Dibawa ke Mana?

Pergantian pemimpin adalah bagian dari perjalanan sejarah. Namun yang jauh lebih penting adalah memastikan bahwa nilai perjuangan tetap menjadi arah, bukan sekadar kenangan.

Masa Depan Selalu Dimulai dari Hari Ini

Setiap zaman melahirkan tantangannya sendiri. Tidak ada generasi yang dapat mengulang persis keadaan generasi sebelumnya, sebagaimana tidak ada pemimpin yang mampu menggantikan seluruh kelebihan para pendahulunya. Namun sejarah juga mengajarkan bahwa setiap generasi selalu diberi kesempatan untuk menorehkan pengabdiannya sendiri.

Lima tahun setelah wafatnya Al-Habib S. Saggaf bin Muhammad Aljufri, Alkhairaat memasuki babak baru perjalanan yang tidak ringan. Tongkat estafet telah berpindah, waktu terus berjalan, dan perubahan dunia berlangsung jauh lebih cepat daripada yang pernah dibayangkan beberapa dekade lalu.

Di tengah perubahan itulah muncul sebuah pertanyaan besar yang layak menjadi bahan renungan bersama.

Ke manakah Alkhairaat akan dibawa?

Seri Haul HS Saggaf Aljufri: Merawat Amanah, Melanjutkan Cahaya Perjuangan-3

Pertanyaan ini bukan hanya ditujukan kepada para pemimpin organisasi, tetapi juga kepada seluruh keluarga besar Alkhairaat. Sebab masa depan tidak dibangun oleh satu orang, melainkan oleh kesadaran kolektif seluruh elemen yang mencintainya.

Menjaga Ruh, Bukan Hanya Struktur

Pergantian kepemimpinan adalah sesuatu yang wajar. Pergantian pengurus juga merupakan bagian dari dinamika organisasi. Namun yang tidak boleh berganti adalah ruh perjuangan yang diwariskan oleh Guru Tua, dilanjutkan oleh Habib Muhammad, dan dijaga dengan penuh kesungguhan oleh Habib Saggaf.

Organisasi yang besar sering kali sibuk memperkuat struktur, tetapi lupa merawat jiwanya. Padahal, struktur hanya menjadi alat, sedangkan ruh adalah penentu arah.

Ruh Alkhairaat adalah pendidikan, dakwah, akhlak, persaudaraan, dan pengabdian kepada umat.

Apabila ruh itu tetap hidup, perubahan zaman akan menjadi peluang. Sebaliknya, apabila ruh itu mulai memudar, sebesar apa pun organisasinya akan kehilangan daya hidupnya.

Seri Haul HS Saggaf Aljufri: Merawat Amanah, Melanjutkan Cahaya Perjuangan-2

Karena itu, tantangan terbesar Alkhairaat hari ini bukan sekadar memperbanyak lembaga, melainkan memastikan bahwa setiap lembaga tetap membawa nilai yang menjadi ciri khas perjuangan Guru Tua.

Konflik Tidak Boleh Menjadi Warisan

Tidak ada organisasi besar yang bebas dari dinamika. Perbedaan pandangan, perbedaan penafsiran, bahkan perbedaan langkah adalah bagian dari perjalanan panjang setiap lembaga.

Namun, ada satu hal yang perlu menjadi renungan bersama.

Apakah generasi hari ini ingin dikenang sebagai generasi yang mewarisi konflik, atau sebagai generasi yang berhasil menyelesaikannya?

Pertanyaan ini penting, sebab sejarah selalu lebih menghargai para pendamai daripada para pemenang pertikaian.

Seri Haul HS Saggaf Aljufri: Merawat Amanah Melanjutkan Cahaya Perjuangan-1

Di tengah situasi yang masih menyisakan dinamika dalam keluarga besar Alkhairaat, semangat ishlah hendaknya ditempatkan di atas segala kepentingan lainnya. Islah bukanlah tanda kelemahan. Sebaliknya, ia adalah keberanian untuk mengalahkan ego demi menjaga amanah yang jauh lebih besar.

Mungkin kita tidak akan selalu sepakat dalam setiap persoalan. Namun bukankah kita dapat tetap saling menghormati karena berasal dari rumah perjuangan yang sama?

Bukankah Guru Tua mendidik murid-muridnya untuk memperluas persaudaraan, bukan mempersempitnya?

Bukankah Habib Saggaf berulang kali mengingatkan pentingnya menjaga persatuan sebagai bagian dari menjaga Alkhairaat?

Pertanyaan-pertanyaan itu semestinya terus bergema di dalam hati setiap Abnaulkhairaat.

Menjadi Pelopor, Bukan Sekadar Pengikut Perubahan

Dunia pendidikan sedang berubah dengan sangat cepat. Kecerdasan buatan, digitalisasi, ekonomi berbasis pengetahuan, dan perubahan karakter generasi muda menghadirkan tantangan yang belum pernah dihadapi sebelumnya.

Dalam situasi seperti ini, Alkhairaat tidak cukup hanya bertahan. Alkhairaat harus berani memimpin perubahan.

  • Madrasah perlu menjadi pusat lahirnya generasi yang menguasai ilmu agama sekaligus mampu berdialog dengan ilmu pengetahuan modern.
  • Guru harus terus diperkuat kualitasnya.
  • Santri perlu dibekali kemampuan berpikir kritis, kecakapan teknologi, serta kepekaan sosial.
  • Alumni harus menjadi kekuatan yang saling menguatkan, bukan berjalan sendiri-sendiri.

Semua itu hanya dapat terwujud apabila pembaruan dilakukan tanpa memutus mata rantai nilai yang telah diwariskan para pendahulu.

Abnaulkhairaat Sebagai Penjaga Marwah

Di tengah derasnya arus informasi, posisi Abnaulkhairaat menjadi sangat strategis.

Abnaulkhairaat bukan sekadar alumni sebuah lembaga pendidikan. Mereka adalah wajah Alkhairaat di tengah masyarakat.

Karena itu, sudah semestinya setiap Abnaulkhairaat menjaga marwah organisasi melalui akhlak, karya, dan keteladanan.

Bukan dengan memperluas ruang pertentangan.

Bukan dengan membesarkan perbedaan.

Apalagi menjadikan media sosial sebagai arena saling menyalahkan.

Masyarakat tidak sedang menunggu siapa yang paling keras berbicara. Masyarakat sedang menunggu siapa yang paling mampu menghadirkan solusi.

Barangkali inilah saatnya seluruh Abnaulkhairaat menjadi jembatan yang mempertemukan, bukan tembok yang memisahkan.

Alkhairaat Sebagai Trendsetter Kemaslahatan

Sejak awal berdirinya, Alkhairaat tidak pernah hadir hanya untuk kepentingan internalnya sendiri. Alkhairaat hadir untuk melayani umat.

Karena itu, masa depan Alkhairaat tidak cukup diukur dari keberhasilan menyelesaikan persoalan internal. Yang lebih penting adalah bagaimana Alkhairaat kembali tampil sebagai pelopor dalam membangun kemaslahatan.

  • Menjadi pelopor pendidikan Islam yang berkualitas.
  • Menjadi pelopor dakwah yang menyejukkan.
  • Menjadi pelopor persaudaraan lintas perbedaan.
  • Menjadi pelopor pemberdayaan ekonomi umat.
  • Menjadi pelopor dalam membangun karakter generasi muda.

Bahkan lebih dari itu, Alkhairaat dapat menjadi trendsetter ishlah, sebuah teladan bahwa organisasi besar mampu menyelesaikan dinamika internalnya melalui musyawarah, hikmah, dan kasih sayang. Apabila itu mampu diwujudkan, maka Alkhairaat tidak hanya memberi pelajaran kepada keluarga besarnya sendiri, tetapi juga kepada bangsa ini bahwa persatuan adalah hasil dari kebesaran jiwa.

Warisan Terbesar Adalah Harapan

Habib Saggaf telah menyelesaikan tugasnya.

Guru Tua telah meletakkan pondasinya.

Habib Muhammad telah meneruskan estafetnya.

Kini sejarah sedang menunggu apa yang akan dilakukan oleh generasi hari ini.

Mungkin kita tidak akan mampu mengulang persis perjuangan para pendahulu. Namun kita masih mempunyai kesempatan menjaga arah yang telah mereka tunjukkan.

Karena itu, pertanyaan “Alkhairaat hendak dibawa ke mana?” sesungguhnya hanya dapat dijawab oleh tindakan kita hari ini.

  • Apabila persaudaraan lebih diutamakan daripada perbedaan.
  • Apabila pendidikan lebih diutamakan daripada kepentingan sesaat.
  • Apabila amanah lebih dijaga daripada jabatan.
  • Apabila maslahat umat lebih besar daripada kepentingan kelompok.

Maka sesungguhnya Alkhairaat sedang berjalan menuju masa depan yang dicita-citakan oleh para pendirinya.

Masa depan tidak pernah diwariskan dalam keadaan selesai. Ia selalu dititipkan kepada generasi yang bersedia memikul amanah dengan hati yang lapang dan pikiran yang jernih. Semoga Alkhairaat terus melangkah sebagai rumah ilmu, rumah persaudaraan, dan rumah kemaslahatan yang tidak hanya membanggakan keluarga besarnya, tetapi juga menjadi cahaya bagi Indonesia dan dunia.

Salam Nurani
Palu, 5 Agustus 2026

“Sebuah organisasi menjadi besar bukan karena bebas dari perbedaan, melainkan karena mampu mengubah perbedaan menjadi kekuatan. Ketika persaudaraan lebih tinggi daripada kepentingan, dan amanah lebih utama daripada ambisi, di situlah masa depan dibangun dengan penuh keberkahan.”

Oleh: SM Syams
Akademisi dan Pemerhati Refleksi Sosial Kemasyarakatan Palu