Foto Jamaluddin Mariadjang
Jamaluddin Mariadjang
Sekjen
Foto HS. Alwi bin Saggaf Aljufri
HS. Alwi bin Saggaf Aljufri
Ketua Utama
Foto H.S. Mohsen Alaydrus
H.S. Mohsen Alaydrus
Ketua Umum
Khazanah Tokoh
Home » Berita » Belajar Banyak dari Habib Saggaf: Teladan Dakwah Moderat

Belajar Banyak dari Habib Saggaf: Teladan Dakwah Moderat

Habib Saggaf
Habib Sayyid Saggaf bin Muhammad Aljufri

Inilah saat-saat yang indah sekaligus syahdu mengenang Habib Sayid Saggaf bin Salim Aljufri, mata air kehidupan umat Islam Indonesia yang mangkat kembali ke rahmatullah. Jutaan manusia meratapi kepergian sang waliullah, sebuah pemandangan yang menyiratkan betapa besarnya jejak pengabdian beliau bagi ALKHAIRAAT dan bangsa. Sepanjang usianya, segala macam lakon kehidupan telah dilalui, dari merawat perguruan hingga menavigasi dimensi politik keumatan. Semua dijalani dengan sempurna tanpa cacat, mewariskan keteladanan yang tak lekang oleh waktu.

Berselimut Karomah sebagai Ketua Utama

Ada banyak jabatan pernah diemban Allahyarham, namun satu yang tak pernah tergantikan hingga akhir hayatnya adalah menjadi Ketua Utama Alkhairaat. Inilah posisi sakral yang tak boleh disematkan pada sembarang warga, karena jabatan ini berselimut karomah. Hanya sosok habib dengan kedalaman ilmu dan spiritualitas tinggi yang mampu menyandang amanah maha berat tersebut.

Legasi Islam Moderat yang Merangkul

Allahyarham Habib Saggaf merupakan gambaran utuh tokoh muslim moderat yang menghargai perbedaan serta bertoleransi tinggi pada pemeluk agama lain. Identifikasi dirinya sangat lekat dengan visi luhur Guru Tua (Habib Idrus bin Salim Aljufri), menampilkan dakwah yang bersifat kultural, moderat, dan sangat menghargai entitas budaya lokal Nusantara. Nilai-nilai keteladanan ini sejatinya merupakan kepanjangan tangan dari visi besar pendiri Alkhairaat yang sejak awal mendesain institusi pendidikan ini sebagai kawah candradimuka bagi lahirnya ulama berwawasan luas dan berjiwa kebangsaan tinggi.

Inilah legasi besar yang diwariskan Allahyarham kepada abnaul khairaat dan kita semua untuk terus ditumbuhkembangkan. Beliau menjadi contoh teladan dalam menjaga bingkai keberagaman dalam Islam. Ia menunjukkan wajah Islam yang melindungi minoritas tanpa abai pada hak mayoritas. Menampilkan wajah agama yang penuh kasih sayang mutlak melalui pendekatan dakwah dan sentuhan kebudayaan. Prinsip ini sejalan dengan firman Allah SWT tentang esensi risalah Islam:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ

Warisan Terbesar Habib Saggaf, Berhasil Melahirkan Generasi Pemimpin Lewat Pendidikan

“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS. Al-Anbiya: 107)

Cetak Biru Dakwah Alkhairaat di Nusantara

Kita mengenang Habib Saggaf atas berpulangnya ke Rahmatullah adalah cara paling efektif untuk menapak tilas dan membuka kembali lembaran sejarah dakwah Alkhairaat di bumi persada Nusantara. Ada cetak biru yang menonjol bahwa dakwah Alkhairaat tampil bukan dengan cara garang, muka seram, dan angkat pedang yang membuat Islam menjadi agama besar di negeri ini. Islam mengakar melalui metode pendekatan yang memanusiakan manusia. Sebagaimana ditegaskan oleh para ulama nusantara, dakwah yang paling membekas adalah yang disampaikan melalui keteladanan nyata, bukan sekadar retorika. Inilah yang dipraktikkan Habib Saggaf tatkala turun ke pelosok desa menyapa umat.

Dalam praksisnya, dakwah Alkhairaat yang diajarkan dan dicontohkan langsung oleh Habib Saggaf bertumpu pada beberapa pilar utama:

  • Kesederhanaan: Menjauhi kemewahan duniawi demi mendekatkan diri kepada realitas umat di akar rumput.
  • Kelembutan Nurani: Mengedepankan akhlakul karimah dalam merespons berbagai polemik sosial tanpa caci maki.
  • Toleransi Aktif: Membuka ruang dialog dan menghormati keyakinan lain guna merawat kerukunan beragama.
  • Ketegasan Prinsip: Bersikap lugas dan tak tergoyahkan ketika menyangkut akidah dan hukum fundamental.

Refleksi Jalan Pedang Dakwah Sang Penyejuk

Dalam kerangka inilah sosok Allahyarham Habib Saggaf menjadi mata air kehidupan umat, bertindak sebagai penyejuk sekaligus paku bumi yang kokoh. Simplifikasi ketokohannya itu kini menjadi barang langka di negeri ini, di tengah gempuran pemikiran radikalisme yang terus merambati sebagian umat Islam di Indonesia.

Bangsa ini amat memerlukan figur penyejuk yang mampu mendinginkan suasana gahar atau panas, baik karena pertikaian politik sektoral maupun derasnya infiltrasi ideologi berhaluan keras. Karena itu, tak ada salahnya kalau kita belajar banyak dari cara dakwah dan seni bermasyarakat ala Habib Saggaf.

Mohamad Irwan Ungkap Nasihat Habib Saggaf yang Menjadi Pegangan Saat Memimpin Sigi

Betul bahwa Habib Saggaf secara fisik telah berpulang, tapi itu sekadar raganya. Habib akan selamanya hidup bersama kita bila setiap sentuhan dakwahnya kita ejawantahkan dalam laku sehari-hari. Saat ini, tugas utama kita adalah berusaha mengembalikan wajah Islam yang ramah dan merambah luas. Islam yang santun dan damai seperti yang terus diperagakan oleh Alkhairaat.

Tugas ini sungguh berat, tetapi inilah jalan pedang dakwah Habib Saggaf yang perlu dilakoni dengan ikhlas. Wallahul Mustaan.

Ditulis oleh: Darlis Muhammad (Redaktur Senior Media Alkhairaat)