Puncak Haul Habib Saggaf: Sang Penjaga Cahaya Alkhairaat
Seorang ulama mungkin berpulang, tetapi nilai yang ditanamkannya akan terus hidup selama masih ada hati yang menjaga ilmu, akhlak, dan persaudaraan sebagai jalan pengabdian di ALKHAIRAAT.
Cahaya yang Tidak Pernah Padam
Ada manusia yang dikenang karena pernah memimpin, tetapi ada pula yang terus dikenang karena telah menghidupkan harapan. Jabatan dapat berakhir ketika masa amanah selesai, sedangkan keteladanan akan tetap hidup selama masih ada orang yang menjadikannya sebagai pedoman. Di antara tokoh-tokoh yang meninggalkan jejak seperti itu adalah Al-Habib Sayyid Saggaf bin Muhammad Aljufri.
Lima tahun telah berlalu sejak beliau menghadap Sang Khalik. Waktu terus berjalan, generasi berganti, dan keadaan berubah mengikuti putaran zaman. Namun ada sesuatu yang tetap bertahan melampaui pergantian itu semua, yakni penghormatan masyarakat kepada seorang ulama yang mengabdikan hampir seluruh hidupnya untuk pendidikan, dakwah, dan persatuan.
Mengenang beliau pada Haul ke-5 bukan sekadar membuka kembali lembaran sejarah. Lebih dari itu, kita sedang diajak menelusuri sebuah perjalanan hidup yang dibangun di atas ilmu, kesederhanaan, dan tanggung jawab. Sebab seseorang tidak menjadi besar hanya karena panjangnya masa kepemimpinan, tetapi karena luasnya manfaat yang terus dirasakan setelah ia tiada.
Ditempa oleh Rumah Ilmu dan Keteladanan
Habib Saggaf lahir dalam lingkungan yang menjadikan ilmu sebagai napas kehidupan. Sebagai putra Al-Habib Muhammad bin Idrus Aljufri dan cucu Guru Tua, beliau tumbuh bukan di tengah kemewahan dunia, melainkan di tengah tradisi keilmuan yang sangat kuat.
Rumah tempat beliau dibesarkan adalah rumah yang dipenuhi adab kepada guru, penghormatan kepada ilmu, serta pengabdian kepada masyarakat. Dari sanalah beliau belajar bahwa kemuliaan seseorang tidak terletak pada apa yang dimiliki, tetapi pada apa yang mampu diberikan kepada orang lain.
Guru Tua bukan hanya seorang kakek yang dicintai, melainkan juga seorang pendidik yang membentuk cara pandangnya terhadap kehidupan. Keteguhan dalam mendidik, kesabaran menghadapi umat, serta keikhlasan dalam berdakwah menjadi pelajaran yang jauh lebih berharga daripada sekadar nasihat yang diucapkan.
Barangkali karena itulah, sejak usia muda beliau telah memahami bahwa ilmu tidak boleh berhenti menjadi pengetahuan, tetapi harus menjelma menjadi akhlak yang tampak dalam perilaku sehari-hari.
Perjalanan Ilmu yang Berujung pada Pengabdian
Kehausan terhadap ilmu membawa Habib Saggaf melanjutkan pendidikan ke Universitas Al- Azhar di Kairo, Mesir, sebuah lembaga yang sejak berabad-abad dikenal sebagai salah satu pusat keilmuan Islam dunia. Di sana beliau memperdalam ilmu-ilmu keislaman hingga menyelesaikan pendidikan tinggi di bidang Ushuluddin. Namun yang membuat perjalanan beliau istimewa bukanlah tempat belajarnya, melainkan pilihan hidup setelah selesai belajar.
Beliau memilih kembali ke tanah air. Pilihan ini sesungguhnya menyimpan pelajaran yang sangat dalam. Ilmu yang diperoleh tidak dijadikan jalan untuk mencari kemuliaan pribadi atau kenyamanan hidup, tetapi dikembalikan kepada masyarakat sebagai bentuk tanggung jawab moral.
Sekembalinya ke Indonesia, beliau mengajar, membina, dan ikut membangun pendidikan tinggi Islam di Sulawesi Tengah. Pada saat yang sama, beliau juga melanjutkan amanah besar dalam lingkungan Alkhairaat, sebuah amanah yang kelak menjadi jalan hidupnya hingga akhir hayat.
Di titik inilah tampak bahwa bagi Habib Saggaf, belajar bukanlah tujuan akhir. Belajar hanyalah bekal untuk mengabdi.
Memimpin dengan Keteduhan, Bukan Kegaduhan
Ada pemimpin yang dikenang karena pidatonya yang berapi-api. Ada pula yang dikenang karena ketenangan yang mampu meneduhkan banyak hati. Habib Saggaf termasuk dalam golongan yang kedua.
Beliau tidak dikenal sebagai sosok yang gemar membangun popularitas. Beliau lebih memilih bekerja dalam ketenangan, membangun lembaga pendidikan, memperkuat jaringan dakwah, membina para guru, dan menjaga agar Alkhairaat tetap berada pada jalan yang telah dirintis oleh Guru Tua.
Di bawah kepemimpinannya, Alkhairaat berkembang menjadi salah satu organisasi pendidikan Islam terbesar di Indonesia Timur. Ribuan madrasah, sekolah, pesantren, dan lembaga pendidikan berdiri sebagai bukti bahwa perjuangan tidak selalu diwujudkan melalui pidato, tetapi juga melalui kerja yang terus menerus.
Yang menarik, beliau tidak pernah menjadikan kebesaran Alkhairaat sebagai alasan untuk meninggikan diri. Justru semakin besar amanah yang dipikul, semakin tampak kesederhanaan dalam sikapnya.
Barangkali inilah pelajaran kepemimpinan yang mulai langka pada masa kini. Bahwa pemimpin sejati tidak sibuk meminta dihormati, melainkan berusaha menjadi pribadi yang layak dihormati.
Ketika Masyarakat Membutuhkan Penyejuk
Perjalanan hidup Habib Saggaf tidak hanya berlangsung di ruang-ruang pendidikan. Beliau juga hadir pada saat masyarakat menghadapi berbagai ujian, termasuk ketika Sulawesi Tengah dilanda konflik sosial yang menyisakan luka mendalam.
Dalam keadaan seperti itu, beliau memilih jalan yang tidak mudah, yakni menjadi bagian dari ikhtiar membangun kembali persaudaraan. Seruan-seruan beliau selalu mengarah pada pentingnya menjaga kedamaian, menghindari permusuhan, dan mengutamakan persatuan.
Beliau memahami bahwa dakwah tidak hanya disampaikan melalui ceramah, tetapi juga melalui keberanian menjadi peneduh ketika banyak orang memilih memperkeras suasana.
Sikap seperti inilah yang membuat beliau dihormati, bukan hanya oleh keluarga besar Alkhairaat, tetapi juga oleh berbagai kalangan masyarakat. Seorang ulama pada akhirnya tidak diukur dari seberapa banyak pengikutnya, melainkan dari seberapa besar kemampuannya menghadirkan ketenangan bagi umat.
Sebagaimana ditegaskan oleh Imam Al-Ghazali dalam Ihya ‘Ulumuddin, ulama sejati adalah mereka yang ilmunya membuahkan rasa ketawadhuan yang pada akhirnya memancarkan ketenangan bagi umat di sekitarnya.
Membangun Peradaban Melalui Pendidikan
Bagi Habib Saggaf, pendidikan bukan sekadar aktivitas mengajar di ruang kelas. Pendidikan adalah proses membangun manusia agar mampu mengenal Tuhannya, menghormati sesamanya, dan bertanggung jawab terhadap kehidupan. Karena itu, selama memimpin Alkhairaat, perhatian beliau tidak pernah lepas dari madrasah, para guru, dan para santri.
Beliau memahami bahwa sebuah organisasi akan kehilangan arah apabila hanya sibuk memperbesar bangunan, tetapi mengabaikan kualitas manusianya. Sebaliknya, apabila guru terus dibina, murid terus dididik, dan ilmu terus dihidupkan, maka bangunan peradaban akan tumbuh dengan sendirinya.
Di bawah kepemimpinannya, Alkhairaat berkembang bukan hanya sebagai organisasi keagamaan, tetapi juga sebagai gerakan pendidikan yang menjangkau berbagai pelosok Indonesia Timur. Ribuan anak memperoleh kesempatan belajar. Banyak guru memilih mengabdi di daerah-daerah terpencil. Tidak sedikit pula alumni yang kemudian menjadi ulama, akademisi, birokrat, pengusaha, maupun tokoh masyarakat.
Sesungguhnya inilah warisan terbesar seorang pendidik. Ia tidak hanya melahirkan murid, tetapi melahirkan generasi yang kelak meneruskan mata rantai pengabdian.
Kesederhanaan yang Menjadi Teladan
Di tengah dunia yang semakin menonjolkan pencitraan, Habib Saggaf justru dikenal melalui kesederhanaannya. Banyak orang yang pernah berjumpa dengan beliau mengenang sosok yang lembut, mudah ditemui, tidak berlebihan dalam penampilan, dan lebih banyak mendengar daripada berbicara.
Beliau memahami bahwa kehormatan seorang ulama tidak lahir dari kemegahan, melainkan dari akhlak. Sebab ilmu yang tinggi akan kehilangan maknanya apabila tidak disertai kerendahan hati.
Kesederhanaan itu juga tampak dalam cara beliau memimpin. Beliau tidak membangun jarak dengan masyarakat. Siapa pun dapat datang untuk meminta nasihat, menyampaikan persoalan, atau sekadar bersilaturahmi. Dalam banyak kesempatan, beliau lebih memilih menjadi pendengar yang baik sebelum memberikan pandangan.
Barangkali di sinilah letak kewibawaan beliau. Bukan karena suara yang keras, melainkan karena hati yang lapang. Bukan karena kekuasaan yang besar, melainkan karena kepercayaan yang tumbuh dari keteladanan.
Wasiat yang Menjadi Titipan Sejarah
Menjelang akhir hayatnya, perhatian Habib Saggaf tidak tertuju kepada dirinya sendiri. Pikiran beliau justru tetap berada pada Alkhairaat yang telah menjadi bagian dari hidupnya selama puluhan tahun.
Pesan beliau agar Alkhairaat tetap dihidupkan dan dijaga bukanlah kalimat yang lahir secara spontan. Ia merupakan sari pati dari perjalanan panjang yang beliau jalani. Dalam berbagai kesempatan, beliau selalu mengingatkan pentingnya menjaga madrasah, memelihara persatuan, memperkuat pendidikan, dan menghindari segala sesuatu yang dapat melemahkan organisasi.
Ada riwayat yang dikenal luas bahwa di penghujung kehidupannya beliau menyampaikan ungkapan yang menggambarkan betapa besar rasa tanggung jawab terhadap amanah yang dipikulnya. Terlepas dari berbagai versi penuturannya, pesan moral yang dapat dipetik sangat jelas, yakni seorang pemimpin sejati selalu lebih memikirkan amanah yang ditinggalkan daripada kedudukan yang pernah dimilikinya.
Mungkin karena itulah, setelah beliau wafat, masyarakat tidak hanya kehilangan seorang Ketua Utama. Mereka merasa kehilangan seorang ayah, seorang guru, dan seorang peneduh yang selama ini menjadi tempat bertanya ketika menghadapi berbagai persoalan.
Mengapa Habib Saggaf Tetap Relevan Hari Ini
Lima tahun setelah kepergian beliau, dunia telah berubah dengan sangat cepat. Teknologi berkembang pesat, pola kehidupan bergeser, dan tantangan pendidikan semakin kompleks. Namun nilai-nilai yang beliau wariskan justru terasa semakin relevan.
Ketika masyarakat mudah terpecah oleh perbedaan, beliau mengajarkan persatuan. Ketika banyak orang mengejar kedudukan, beliau mengajarkan amanah. Ketika sebagian orang menjadikan ilmu sebagai alat kebanggaan, beliau mengajarkan ilmu sebagai jalan pengabdian. Ketika kehidupan semakin gaduh oleh kepentingan, beliau menunjukkan bahwa kelembutan sering kali lebih kuat daripada pertentangan.
Barangkali inilah sebabnya mengapa nama beliau tetap disebut dengan penuh hormat oleh banyak kalangan. Yang dikenang bukan hanya siapa beliau, tetapi nilai-nilai yang beliau hidupkan.
Jejak Itu Kini Menjadi Tanggung Jawab Kita
Sesungguhnya Haul bukanlah tentang seseorang yang telah berpulang. Haul adalah cermin yang mengajak generasi yang masih hidup untuk bertanya kepada dirinya sendiri.
- Apakah madrasah yang dahulu beliau jaga masih terus berkembang?
- Apakah persaudaraan yang beliau rawat masih tetap terpelihara?
- Apakah amanah yang beliau titipkan benar-benar sedang dijalankan?
Pertanyaan-pertanyaan itu jauh lebih penting daripada sekadar mengenang perjalanan hidup beliau.
Sebab penghormatan tertinggi kepada seorang ulama bukanlah memperbanyak pujian, melainkan memperbanyak ikhtiar untuk meneruskan perjuangannya.
Hari ini Alkhairaat sedang menghadapi tantangan zaman yang berbeda. Dinamika organisasi, perubahan sosial, perkembangan teknologi, hingga kebutuhan generasi muda memerlukan kebijaksanaan baru. Namun arah perjuangannya tidak boleh berubah.
Selama Alkhairaat tetap menjadikan ilmu sebagai cahaya, akhlak sebagai identitas, dan persaudaraan sebagai kekuatan, maka sesungguhnya jejak Habib Saggaf akan terus hidup dalam setiap langkah pengabdiannya.
Seorang ulama tidak pernah benar-benar pergi ketika ilmu yang diajarkannya terus diamalkan, ketika akhlak yang dicontohkannya tetap diteladani, dan ketika amanah yang ditinggalkannya dijaga dengan penuh tanggung jawab. Haul ke-5 Al-Habib HS. Saggaf bin Muhammad Aljufri hendaknya menjadi momentum untuk memperbarui janji bahwa Alkhairaat akan terus melangkah sebagai rumah ilmu, rumah persaudaraan, dan rumah pengabdian bagi umat, sebagaimana cita-cita besar yang diwariskan Guru Tua dan dijaga dengan penuh kesetiaan oleh Habib Saggaf.
Salam Nurani,
Palu, 5 Agustus 2026
“Pemimpin boleh berganti, zaman boleh berubah, tetapi nilai tidak boleh kehilangan penjaganya. Selama ilmu tetap dimuliakan, guru tetap dihormati, dan persaudaraan tetap dirawat, selama itu pula cahaya perjuangan Al-Habib HS. Saggaf bin Muhammad Aljufri akan terus menyala, menerangi perjalanan Alkhairaat dari generasi ke generasi.”
Oleh: SM Syams
Akademisi dan Pemerhati Refleksi Sosial Kemasyarakatan Palu


