Jejak yang Tidak Boleh Memudar
Haul bukan sekadar mengenang seorang tokoh, tetapi menghidupkan kembali amanah yang ditinggalkannya bagi perjalanan Alkhairaat dan kemaslahatan umat
Ketika Waktu Menyisakan Nama dan Amanah
Ada orang yang dikenang karena jabatannya. Ada pula yang terus hidup dalam ingatan karena nilai-nilai yang ditanamkannya. Perjalanan waktu boleh saja memisahkan manusia dari kehidupan dunia, tetapi waktu tidak pernah mampu menghapus jejak pengabdian yang lahir dari keikhlasan. Jejak semacam itulah yang tetap terasa setiap kali nama Almarhum Al-Habib Sayyid Saggaf bin Muhammad Aljufri disebut oleh keluarga besar Alkhairaat maupun masyarakat luas.
Lima tahun telah berlalu sejak beliau berpulang. Dalam hitungan kalender, waktu itu mungkin terasa cukup panjang. Namun bagi sebuah perjuangan, lima tahun hanyalah sekejap mata. Sebab cita-cita besar tidak pernah selesai bersama wafatnya seorang pemimpin. Ia justru berpindah menjadi amanah yang harus dipikul oleh generasi penerus.
Karena itu, Haul bukanlah sekadar tradisi mengenang masa lalu. Ia adalah ruang perenungan untuk bertanya kepada diri sendiri, apakah nilai yang diwariskan masih hidup dalam tindakan, atau hanya tinggal menjadi cerita yang diulang setiap tahun.
Seorang Pewaris Perjuangan, Bukan Sekadar Penerus Kepemimpinan
Sejarah mencatat Habib Saggaf sebagai Ketua Utama Alkhairaat yang memimpin organisasi ini dalam kurun waktu yang sangat panjang. Namun kepemimpinan beliau sesungguhnya tidak dapat dipahami hanya melalui rentang waktu. Yang lebih penting adalah bagaimana beliau memaknai kepemimpinan sebagai amanah untuk menjaga warisan Guru Tua.
Beliau lahir dan tumbuh di lingkungan keluarga yang menjadikan ilmu sebagai jalan hidup. Sejak muda beliau ditempa oleh tradisi pendidikan, kemudian memperluas cakrawala keilmuan di Universitas Al-Azhar, Kairo. Bekal itulah yang kemudian dibawa pulang untuk mengabdi kepada masyarakat, bukan demi membangun kebesaran pribadi, melainkan memperkuat pondasi Alkhairaat sebagai rumah pendidikan dan dakwah.
Dalam perjalanan panjang itu, beliau tidak hanya melanjutkan estafet kepemimpinan, tetapi juga menjaga agar ruh perjuangan Guru Tua tetap menyala di tengah perubahan zaman.
Alkhairaat Adalah Peradaban, Bukan Sekadar Organisasi
Sering kali sebuah organisasi dinilai dari jumlah anggotanya, luas wilayahnya, atau besarnya aset yang dimiliki. Padahal kekuatan sesungguhnya tidak selalu lahir dari angka-angka tersebut.
Alkhairaat sejak awal dibangun di atas keyakinan bahwa ilmu pengetahuan adalah jalan memuliakan manusia. Karena itu, madrasah, guru, santri, dan masyarakat menjadi satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Di situlah letak kekhasan Alkhairaat sebagai gerakan pendidikan yang melampaui batas administratif organisasi.
Habib Saggaf memahami benar bahwa menjaga Alkhairaat berarti menjaga mata air ilmu yang telah dirintis oleh Guru Tua. Sebab apabila mata air itu tetap jernih, maka manfaatnya akan terus mengalir kepada generasi demi generasi.
Makna Haul yang Sering Terlupakan
Tidak sedikit orang memaknai haul hanya sebagai momentum berkumpul, membaca doa, atau mengenang kisah-kisah indah masa lalu. Semua itu tentu memiliki nilai tersendiri. Namun makna haul akan menjadi jauh lebih dalam apabila ia melahirkan kesediaan untuk memperbaiki diri.
Menghormati seorang ulama bukan hanya dilakukan dengan menyebut namanya dalam doa. Penghormatan yang lebih besar adalah melanjutkan cita-cita yang dahulu beliau perjuangkan.
Apabila beliau membangun pendidikan, maka pendidikan itulah yang harus diperkuat. Apabila beliau menjaga persaudaraan, maka persaudaraan itulah yang harus dipelihara. Apabila beliau mengajarkan keikhlasan, maka keikhlasan itulah yang harus menjadi nafas setiap langkah.
Dengan demikian, haul tidak berhenti sebagai seremoni tahunan, melainkan berubah menjadi energi moral yang menghidupkan kembali semangat perjuangan.
Keteladanan yang Tidak Banyak Berbicara
Banyak pemimpin dikenal karena pidatonya. Namun ada pula pemimpin yang lebih banyak berbicara melalui keteladanan hidupnya. Habib Saggaf termasuk dalam kelompok kedua.
Kesederhanaan, kelembutan, kecintaan kepada ilmu, penghormatan kepada para guru, kepedulian terhadap madrasah, dan sikap yang mengedepankan persatuan menjadi bagian dari karakter yang dikenang oleh banyak orang.
Keteladanan seperti ini sesungguhnya lebih sulit diwariskan dibandingkan bangunan fisik. Sebab ia hanya dapat hidup apabila setiap generasi bersedia meneladaninya dalam kehidupan sehari-hari.
Di tengah zaman yang sering mengagungkan popularitas, keteladanan semacam ini justru menjadi semakin berharga.
Jejak yang Menjadi Amanah Bersama
Tidak ada manusia yang hidup selamanya. Demikian pula tidak ada pemimpin yang akan terus memegang amanah sepanjang masa. Pergantian generasi merupakan bagian dari sunnatullah yang tidak dapat dihindari.
Namun sebuah organisasi akan tetap kokoh apabila setiap generasi memahami bahwa mereka bukan pemilik perjuangan, melainkan penerima amanah.
Alkhairaat tidak lahir untuk kepentingan satu keluarga, satu kelompok, ataupun satu generasi. Alkhairaat lahir untuk menjadi pelita ilmu, dakwah, dan kemanusiaan bagi masyarakat yang lebih luas. Karena itu, setiap Abnaulkhairaat, guru, santri, alumni, dan seluruh keluarga besarnya memikul tanggung jawab moral untuk menjaga cahaya itu agar tidak redup.
Menghidupkan Nilai, Bukan Sekadar Mengingat Nama
Haul kelima Almarhum Habib Saggaf seharusnya tidak berhenti pada rasa kehilangan. Sebaliknya, momentum ini perlu menjadi awal untuk menghidupkan kembali nilai-nilai yang selama ini menjadi fondasi perjalanan Alkhairaat.
Sebab seorang ulama tidak benar-benar pergi ketika jasadnya dikembalikan kepada tanah. Ia tetap hidup melalui ilmu yang diajarkan, akhlak yang diwariskan, dan amal yang terus memberi manfaat kepada manusia.
Di sanalah makna sebuah perjuangan menemukan keabadiannya.
Haul mengajarkan bahwa waktu boleh terus berjalan, tetapi amanah tidak boleh berhenti. Dan selama masih ada orang-orang yang menjaga nilai-nilai itu dengan penuh keikhlasan, sesungguhnya jejak beliau tidak akan pernah memudar.
Mengenang seorang ulama bukanlah perjalanan kembali ke masa lalu, melainkan perjalanan menjemput masa depan dengan membawa nilai-nilai yang pernah beliau tanamkan. Sebab sejarah hanya akan tetap hidup apabila setiap generasi bersedia menjadikannya sebagai arah, bukan sekadar kenangan.
Salam Nurani,
Palu, 05/08/2026
“Jejak seorang ulama tidak diukur dari panjangnya usia, tetapi dari panjangnya manfaat yang terus mengalir setelah kepergiannya. Selama ilmu tetap diajarkan, persaudaraan tetap dirawat, dan amanah tetap dijaga, selama itu pula cahaya perjuangannya akan terus menerangi langkah generasi berikutnya,” kata SM Syams, Akademisi dan Pemerhati Refleksi Sosial Kemasyarakatan Palu.
Oleh: SM Syams
Akademisi dan Pemerhati Refleksi Sosial Kemasyarakatan Palu


