Foto Jamaluddin Mariadjang
Jamaluddin Mariadjang
Sekjen
Foto HS. Alwi bin Saggaf Aljufri
HS. Alwi bin Saggaf Aljufri
Ketua Utama
Foto H.S. Mohsen Alaydrus
H.S. Mohsen Alaydrus
Ketua Umum
Khazanah
Home » Berita » Parenting Siti Hajar: Mengubah Padang Tandus Menjadi Generasi Emas

Parenting Siti Hajar: Mengubah Padang Tandus Menjadi Generasi Emas

Parenting Siti Hajar

Kecemasan melanda banyak orang tua modern ketika menghadapi anak yang mudah menyerah pada tekanan kecil. Fenomena “strawberry generation” membuktikan bahwa ketersediaan fasilitas lengkap dan perlindungan berlebih tidak selalu berbanding lurus dengan ketangguhan mental seorang anak. Paradoks ini membawa kita menelusuri kembali sebuah manuskrip peradaban tertua tentang resiliensi keluarga yang diabadikan di tanah gersang Makkah. Membaca jejak keteladanan ini tidak hanya merekonstruksi cara kita mengasuh dan mendidik, tetapi juga sejalan dengan napas perjuangan pendidikan di ALKHAIRAAT yang senantiasa memadukan keimanan murni dan daya juang tanpa batas.

Melampaui Keputusasaan di Lembah Bakkah

Ditinggalkan di padang pasir tak berpenghuni bersama seorang bayi yang masih menyusu bukanlah situasi ideal bagi ibu mana pun di dunia ini. Tidak ada sumber air, tidak ada tetumbuhan rimbun, apalagi jaminan perlindungan sosial. Namun, di titik nol kehidupan inilah letak kejeniusan tauhid seorang ibu teruji seutuhnya. Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu dalam riwayat sahih Imam Bukhari menceritakan momen krusial tersebut dengan sangat dramatis. Ketika Siti Hajar menyadari bahwa suaminya, Nabi Ibrahim, meninggalkannya semata-mata atas perintah Allah, kecemasannya seketika luruh. Ia merespons dengan sebuah deklarasi keyakinan yang abadi melintasi zaman: “Jika demikian, Allah sama sekali tidak akan menelantarkan kami.”

Keyakinan monoteistik yang mengakar kuat ini kemudian diabadikan dalam Al-Qur’an melalui untaian doa Nabi Ibrahim dalam Surah Ibrahim ayat 37:

رَّبَّنَآ إِنِّىٓ أَسۡكَنتُ مِن ذُرِّيَّتِى بِوَادٍ غَيۡرِ ذِى زَرۡعٍ عِندَ بَيۡتِكَ ٱلۡمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُواْ ٱلصَّلَوٰةَ فَٱجۡعَلۡ أَفۡـِٔدَةً مِّنَ ٱلنَّاسِ تَهۡوِىٓ إِلَيۡهِمۡ وَٱرۡزُقۡهُم مِّنَ ٱلثَّمَرَٰتِ لَعَلَّهُمۡ يَشۡكُرُونَ

“Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.”

Peristiwa ini mengajarkan kita sebuah prinsip fundamental. Pengasuhan yang sesungguhnya tidak berpusat pada seberapa banyak ketersediaan materi yang bisa kita berikan, melainkan pada kelekatan spiritual kepada Sang Pemberi Rezeki. Modal tauhid inilah yang memicu energi ikhtiar tak terbatas dalam fase berikutnya.

Seri Haul HS Saggaf Aljufri: Merawat Amanah, Melanjutkan Cahaya Perjuangan-5

Manifestasi Sa’i dalam Praktik Mendidik Anak

Meyakini janji pemeliharaan Allah sama sekali tidak membuat Siti Hajar diam pasrah menunggu mukjizat turun dari langit. Saat bekal air habis dan Ismail menangis kehausan, ia berlari mendaki Bukit Shafa, menatap cakrawala mencari kafilah, lalu turun dan berlari lagi menuju Bukit Marwah. Siklus ini ia lakukan berulang kali hingga tujuh putaran. Gerakan fisik penuh peluh ini adalah representasi paling epik dari konsep progresif dalam mendidik jiwa.

Terdapat beberapa pilar pembentukan karakter yang bisa diekstraksi dari peristiwa monumental ini untuk diaplikasikan oleh para orang tua:

  • Proaktif Meretas Solusi: Orang tua harus menjadi sosok pertama yang turun tangan mengambil tindakan saat anak menghadapi krisis. Mengeluh bukanlah pilihan ketika kelangsungan hidup generasi penerus sedang dipertaruhkan.
  • Kecerdasan Mengelola Panik: Tujuh putaran bolak-balik antara Shafa dan Marwah adalah simbol rasionalitas dan ketenangan di tengah kepanikan ekstrem. Keputusan yang diambil saat mengasuh anak harus selalu didasarkan pada akal sehat dan usaha terukur yang konsisten.
  • Sinergi Sempurna Tawakal dan Ikhtiar: Setelah usaha mencari air mencapai batas maksimal daya kemanusiaan, Siti Hajar menyerahkan hasil akhirnya pada Allah. Jawaban langit pun turun berupa mata air Zamzam yang justru memancar dari arah yang tidak disangka, yakni dari bawah hentakan kaki sang bayi sendiri.

Koneksi Spiritual dengan Visi Pendidikan Guru Tua

Ketangguhan jiwa Siti Hajar memiliki resonansi yang teramat kuat dengan semangat perjuangan Sayyid Idrus bin Salim Al-Jufri, atau yang lebih kita kenal sebagai Guru Tua. Ketika beliau mulai merintis dan membangun institusi pendidikan di wilayah Timur Indonesia, kondisinya secara metaforis sangat mirip dengan “lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman”. Keterbatasan fasilitas fisik, beratnya tantangan geografis, dan minimnya dukungan finansial pada masa itu tidak sedikit pun menyurutkan langkah dakwah beliau.

Sama halnya dengan keberkahan air Zamzam yang terus mengalir berkat ikhtiar Hajar dan ketetapan Allah, mata air ilmu pengetahuan yang digali oleh Guru Tua kini terus memancar deras, membasahi dahaga spiritual jutaan umat Islam. Pola asuh dan sistem pendidikan yang beliau wariskan menuntut para pendidik maupun orang tua untuk terus bergerak, bersa’i membangun peradaban, tanpa pernah menjadikan keterbatasan sebagai alasan untuk menyerah.

Proyeksi Masa Depan Resiliensi Keluarga

Melahirkan anak-anak yang memiliki tulang punggung kuat secara mental dan spiritual membutuhkan arena berlatih yang nyata, bukan sekadar zona nyaman yang pada akhirnya melumpuhkan potensi terbesar mereka. Jejak kehidupan Siti Hajar mengingatkan kita dengan keras bahwa mata air kehidupan sering kali justru memancar di tengah situasi yang paling menekan batin.

Ketua Utama Alkhairaat Adalah Amanah, Ustad Sofyan Lahilote Kenang Pesan Guru Tua

Tantangan terbesar sekaligus terberat orang tua hari ini adalah menahan ego protektif untuk tidak selalu menyingkirkan kerikil di jalan anak, melainkan melatih kekuatan kaki mereka agar siap menapaki jalanan terjal. Mendidik generasi penerus berarti membiarkan mereka memukul tanah kehidupan dengan pijakan kakinya sendiri, berlatih menghadapi benturan, hingga pada saatnya nanti mereka mampu memancarkan kebermanfaatan yang luas bagi semesta.