Foto Jamaluddin Mariadjang
Jamaluddin Mariadjang
Sekjen
Foto HS. Alwi bin Saggaf Aljufri
HS. Alwi bin Saggaf Aljufri
Ketua Utama
Foto H.S. Mohsen Alaydrus
H.S. Mohsen Alaydrus
Ketua Umum
Khazanah
Home » Berita » Wafat di Tanah Suci: Kemuliaan Lokasi atau Bukti Kualitas Amal?

Wafat di Tanah Suci: Kemuliaan Lokasi atau Bukti Kualitas Amal?

Wafat di Tanah Suci
Ilustrasi wafat di Tanah Suci. (media.alkhairaat.id).

Para jemaah haji dan umrah yang menghembuskan napas terakhirnya di Makkah atau Madinah selalu memantik rasa haru sekaligus iri di kalangan umat Islam. Berita duka dengan cepat berubah menjadi sanjungan. Kematian yang dicemburui, begitu komentar yang kerap muncul. Di satu sisi, wafat di Tanah Suci memang merupakan sebuah keistimewaan luar biasa. Namun di sisi lain, fenomena ini sering kali menciptakan ilusi bahwa tempat yang mulia secara otomatis menjamin keselamatan akhirat, mengaburkan esensi sesungguhnya dari persiapan menghadapi kematian. Melalui ragam diskursus keislaman di ALKHAIRAAT, kita diajak untuk membedah kembali paradigma ini, menggeser fokus dari sekadar lokasi menuju esensi kualitas amal yang menjadi bekal sejati menghadap Sang Pencipta.

Bukan Tanah yang Mensucikan, Melainkan Amal Perbuatan

Obsesi umat Islam terhadap lokasi kematian sering kali menutupi realitas bahwa maut adalah entitas yang buta terhadap geografi. Seorang Muslim bisa saja merencanakan ibadah bertahun-tahun demi bisa wafat di sekitar Kakbah, namun takdir Allah SWT berada di luar jangkauan kalkulasi manusia. Sebagaimana ditegaskan oleh sahabat mulia Salman Al-Farisi dalam sebuah riwayat yang masyhur, bahwa sesungguhnya bumi atau tempat tidak bisa mensucikan seseorang; yang mensucikan seseorang hanyalah amal perbuatannya.

Pernyataan ini sejalan dengan ketetapan Allah SWT yang secara gamblang menafikan kemampuan manusia untuk memprediksi lokasi kematiannya. Hal ini termaktub jelas dalam firman-Nya:

وَمَا تَدْرِيْ نَفْسٌۢ بِاَيِّ اَرْضٍ تَمُوْتُۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ

Dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui, Maha Mengenal. (QS. Luqman: 34)

Seri Haul HS Saggaf Aljufri: Merawat Amanah, Melanjutkan Cahaya Perjuangan-5

Ayat ini memberikan tamparan keras bagi siapa saja yang menggantungkan kemuliaan akhiratnya semata-mata pada tempat ia wafat. Kematian di Makkah atau Madinah menjadi tidak bermakna jika hati dipenuhi kesombongan, atau jika hak-hak manusia lain belum diselesaikan selama hidup di dunia.

Strategi Membangun Kemuliaan Tanpa Bergantung pada Geografi

Jika tempat bukan penentu mutlak, lantas bagaimana seorang Muslim seharusnya mempersiapkan akhir yang baik (husnul khatimah)? Berikut adalah pilar persiapan yang harus dibangun setiap hari, tanpa harus menunggu keberangkatan ke Tanah Suci:

  • Memurnikan Tauhid dan Niat Setiap Saat: Menjaga hati agar senantiasa terhubung dengan Allah SWT dalam setiap aktivitas, baik saat beribadah mahdhah maupun saat bekerja mencari nafkah.
  • Konsistensi Amal Jariyah: Membangun warisan kebaikan yang terus mengalir, seperti menyebarkan ilmu, membangun fasilitas umum, atau mendidik anak yang saleh.
  • Menuntaskan Urusan Muamalah: Memastikan tidak ada hak orang lain yang terampas, baik berupa harta, kehormatan, maupun janji yang belum ditepati.
  • Bertaubat Sebelum Tidur: Mengingat kematian tidak mengenal waktu, kebiasaan mengevaluasi diri dan memohon ampunan setiap malam menjadi pelindung terbaik dari kematian mendadak yang membawa keburukan.

Keteladanan Guru Tua dalam Memaknai Kehidupan dan Kematian

Kita dapat menarik pelajaran berharga dari pendiri Alkhairaat, Al-Alim Al-Allamah Sayyid Idrus bin Salim Al-Jufri atau yang lebih akrab disapa Guru Tua. Sepanjang hidupnya, beliau mendedikasikan waktu, tenaga, dan hartanya untuk membangun madrasah dan mencerdaskan umat di kawasan Indonesia Timur. Beliau tidak menghabiskan masa tuanya dengan berdiam diri di Timur Tengah sekadar menunggu maut, melainkan terus bergerak menebar manfaat di Palu, Sulawesi Tengah.

Kewafatan Guru Tua meninggalkan duka mendalam bagi bangsa ini, namun sekaligus mewariskan ribuan institusi pendidikan yang pahalanya terus mengalir tiada henti. Kemuliaan wafatnya bukan ditentukan oleh apakah beliau berada di Haramain saat itu, melainkan oleh jejak amal saleh, ilmu yang bermanfaat, dan jutaan murid yang terus mendoakannya. Ini adalah bukti empiris bahwa mengukir karya kebaikan di bumi mana pun akan mendatangkan kemuliaan hakiki di sisi Allah SWT.

Refleksi Spiritual Pengujung Usia

Harapan untuk wafat di tempat yang mulia bukanlah sebuah kesalahan. Itu adalah doa yang wajar bagi setiap insan beriman yang merindukan pertemuan terindah dengan Tuhannya. Namun, menggantungkan kualitas akhirat semata pada letak geografis adalah sebuah kekeliruan fatal. Malaikat maut tidak akan menanyakan koordinat tempat kita menghembuskan napas terakhir, melainkan menimbang bobot keikhlasan dan ketakwaan yang kita bawa. Mulai hari ini, mari berhenti sekadar mengagumi mereka yang berpulang di Tanah Suci, dan mulailah membangun Tanah Suci di dalam hati kita sendiri melalui amal mulia dan ketakwaan yang tak kenal henti.

Ketua Utama Alkhairaat Adalah Amanah, Ustad Sofyan Lahilote Kenang Pesan Guru Tua