Foto Jamaluddin Mariadjang
Jamaluddin Mariadjang
Sekjen
Foto HS. Alwi bin Saggaf Aljufri
HS. Alwi bin Saggaf Aljufri
Ketua Utama
Foto H.S. Mohsen Alaydrus
H.S. Mohsen Alaydrus
Ketua Umum
Khazanah
Home » Berita » Jejak Gedung Tua Alkhairaat Kalukubula: Magnet Spiritual Haul Guru Tua

Jejak Gedung Tua Alkhairaat Kalukubula: Magnet Spiritual Haul Guru Tua

Gedung Tua Alkhairaat
Habib Idrus bin Salim Aljufri, berfoto bersama para muridnya asal Kalukubula, di gedung tua Alkhairaat Desa Kalukubula. (Foto: Istimewa)

Sorot lampu kekuningan menembus dari balik jendela kaca bangunan klasik, memecah hening malam di Desa Kalukubula. Di tengah hiruk-pikuk modernitas yang kerap meminggirkan memori masa lalu, sebuah bangunan tua berornamen khas Timur Tengah justru berdiri tegak melawan amnesia sejarah. Tempat itu bukanlah ruang hampa, melainkan episentrum ruhani yang terus menyambungkan sanad perjuangan Habib Idrus bin Salim Aljufri atau Guru Tua. Bagi jaringan dakwah ALKHAIRAAT, merawat jejak fisik adalah bagian tak terpisahkan dari menjaga nyala pendidikan Islam agar tetap relevan melintasi zaman.

Malam itu, tepatnya Sabtu malam (19/4), tata cahaya gedung berornamen klasik tersebut diatur sedemikian rupa, seolah menyorot langsung lorong waktu menuju masa lampau. Suasana peringatan haul ala Kalukubula begitu kental terasa, memanggil kembali para jamaah untuk menyelami zaman keemasan ketika sang pendiri dan murid-muridnya masih duduk melingkar dalam majelis ilmu. Efek emosional ini semakin kuat dengan dipasangnya empat foto Guru Tua hasil restorasi di balik bingkai jendela kaca, yang memantulkan pendar cahaya syahdu dari dalam ruangan.

Efek visual yang disajikan sukses mengaduk-aduk perasaan jamaah yang hadir memenuhi pelataran. “Saya melihat ini, merinding seperti Guru Tua hadir,” ungkap Munifah, salah seorang jamaah dengan mata berkaca-kaca, tak mampu menyembunyikan getaran haru saat memandangi wajah teduh sang mahaguru.

Magnet Spiritual di Balik Artefak Sederhana

Pada salah satu sudut ruangan yang sengaja dikonsep dengan gaya rustik—beralas susunan kayu palet dan jerami kering—sejumlah benda bersejarah dipamerkan dengan sangat apik. Terdapat sebuah teko tua kusam berdampingan dengan cangkir dan piring saji kecil. Di sebelahnya, tergeletak potongan tongkat yang diyakini pernah menemani panjangnya langkah dakwah Guru Tua. Tidak ketinggalan, panitia memamerkan lembaran tulisan tangan asli yang masih terawat utuh, serta surat wasiat peninggalan Guru Tua mengenai rumah wakaf yang berada tepat di seberang gedung tersebut.

Para pengunjung juga tak luput dari daya tarik sebuah foto langka yang nyaris belum pernah dilihat oleh masyarakat awam sebelumnya. Potret hitam-putih itu merekam momen berharga saat Guru Tua dikelilingi puluhan muridnya, persis berlatar belakang gedung tua ini. Keterikatan batin umat dengan jejak-jejak orang saleh ini amat sejalan dengan penegasan Al-Qur’an mengenai pentingnya menggali hikmah dari rekam jejak umat terdahulu.

Seri Haul HS Saggaf Aljufri: Merawat Amanah, Melanjutkan Cahaya Perjuangan-5

لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِّأُولِي الْأَلْبَابِ

“Sungguh, pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang yang mempunyai akal.” (QS. Yusuf: 111)

Saksi Bisu Transformasi Pendidikan dan Kaderisasi

Nilai historis bangunan ini diakui secara luas. Ketua Yayasan Alkhairaat Desa Kalukubula, Ilyas Nawawi, yang juga putra dari pendiri madrasah setempat Nawawi Ranggewaya, mengungkapkan bahwa tempat itu adalah monumen hidup yang penuh warna. Bermula dari bangunan berdinding papan kayu yang sangat sederhana, perlahan ia bertransformasi menjadi gedung kokoh. Ornamen lengkung jendelanya bahkan dirancang persis dengan bentuk madrasah di Alkhairaat Pusat Palu. Bangunan ini pernah menorehkan tinta emas sebagai institusi Mualimin kedua setelah pusat, sebelum akhirnya beralih fungsi menjadi Madrasah Tsanawiyah, dan kini secara aktif dimanfaatkan untuk kegiatan belajar Madrasah Diniyah Awaliyah.

Habib Muchsen Aly Alhabsyi, saat membawakan hikmah Haul Guru Tua di lokasi tersebut, mengajak jamaah untuk bernostalgia. Dengan nada bergetar ia mengingat kembali masa kecilnya di bangunan ini. “Kalau saya tidak salah ingat. Dulu waktu Habib Saggaf dibawa pertama kali, Habib Idrus baru datang dari Mesir, beliau ceramah di sini. Saya waktu itu masih kecil,” kenangnya.

Keberadaan gedung ini, serta inisiatif pemuda desa yang dikoordinir oleh Jalsatul Jum’ah Majelis Jibril bersama pemerintah desa, menjadi bukti betapa vitalnya peran Kalukubula dalam lanskap dakwah Guru Tua. Terdapat beberapa alasan mengapa perhelatan di tempat ini layak disebut monumental, sebagaimana dipuji oleh Ilyas Nawawi:

Ketua Utama Alkhairaat Adalah Amanah, Ustad Sofyan Lahilote Kenang Pesan Guru Tua

  • Pusat Kaderisasi Tingkat Lanjut: Menjadi institusi Mualimin kedua di luar pusat membuktikan besarnya kepercayaan dan harapan Guru Tua terhadap kualitas sumber daya umat di Kalukubula pada masa itu.
  • Ruang Transmisi Sanad Keilmuan: Tempat bertemunya generasi emas ulama. Kesaksian tentang ceramah perdana Habib Saggaf menunjukkan bahwa gedung ini adalah rahim lahirnya penerus dakwah cemerlang.
  • Simbol Puncak Mahabbah Umat: Jauh sebelum aliran listrik menerangi desa, warga memiliki tradisi luhur; setiap kali mendengar kabar Guru Tua akan berkunjung, sejak malam harinya mereka serentak menyalakan lampu-lampu pelita di sepanjang jalan raya.

Sebagaimana ditegaskan oleh ulama sekaligus sosiolog klasik Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah, merawat artefak fisik dan memori kolektif sebuah peradaban bukanlah sekadar euforia masa lalu. Ini adalah metode paling logis untuk mempertahankan garis sanad dan identitas spiritual umat, sehingga generasi mendatang tidak tercerabut dari akar kemuliaan pendahulunya.

Refleksi Spiritual Merawat Nyala Pelita

Panorama sejarah yang disuguhkan dalam balutan Haul di Gedung Tua Alkhairaat Kalukubula memberikan teguran lembut bagi kita hari ini. Jika di masa penuh keterbatasan warga rela menerangi jalanan tanah yang gelap dengan pelita demi menyambut langkah fisik sang guru, maka tugas kaum muda saat ini jauh lebih menantang: menerangi kegelapan pemikiran dan krisis moral dengan cahaya ilmu peninggalannya. Bangunan ini bukan hanya tumpukan bata dan semen, melainkan denyut nadi dakwah yang masih berdetak. Selama ruang-ruang seperti ini terus dihidupkan dengan zikir, majelis taklim, dan kecintaan kepada ulama, maka keberkahan perjuangan Guru Tua akan terus menyala hingga akhir zaman.