Mengorbankan karir mapan demi mendirikan sekolah tanpa memungut biaya adalah jalan sunyi yang dihindari banyak orang. Namun, ketetapan hati ini justru dipilih oleh Asnani Syafruddin, S.Pd.I., pada tahun 2021 silam. Bersama dukungan tokoh agama setempat, ia meletakkan pondasi awal pendidikan ALKHAIRAAT tingkat dasar, yakni Madrasah Diniyah Awaliyah (MDA) Alkhairaat Sinei di Kabupaten Parigi Moutong, meski diimpit keterbatasan fasilitas dan ketiadaan dana operasional.
Keresahan Asnani bermula dari sebuah realitas sosial. Di Desa Sinei, Kecamatan Tinombo Selatan, anak-anak mungkin lihai melafalkan surah-surah pendek, tetapi rapuh dalam urusan akhlak. Tata krama menghormati guru, orang tua, serta adab terhadap ilmu itu sendiri belum tertanam kuat. Fakta ini memicu semangat pendirian madrasah dengan satu visi mendasar: mencetak generasi Abnaulkhairaat yang beradab dan memiliki mahabbah kepada gurunya.
Urgensi membangun karakter ini sejalan dengan pesan ulama salaf. Imam Malik rahimahullah pernah berpesan tegas mengenai prioritas pembentukan mental seorang penuntut ilmu:
تَعَلَّمِ الأَدَبَ قَبْلَ أَنْ تَتَعَلَّمَ العِلْمَ
“Pelajarilah adab sebelum engkau mempelajari ilmu.” (Riwayat Imam Malik)
Napas perjuangan tanpa pamrih ini tidak lepas dari nilai keteladanan Pendiri Alkhairaat, Guru Tua (Habib Idrus bin Salim Al-Jufri). Sebagaimana Guru Tua menyalakan pelita pendidikan di pelosok nusantara dengan segala tantangannya, Asnani dan para guru di Sinei membuktikan bahwa keikhlasan adalah mata uang yang selalu berlaku di dunia pendidikan Islam.
Titik Balik dan Mengalirnya Keberkahan
Perjalanan awal MDA Alkhairaat Sinei jauh dari kata ideal. Dengan 43 siswa angkatan pertama dan lima orang guru, kegiatan belajar harus menumpang di gedung SDN setempat. Jangankan fasilitas mewah, meja, kursi, hingga papan tulis pun belum tersedia. Keadaan makin menantang ketika para guru menyadari sulitnya mengubah tabiat dan cara berbicara anak-anak yang terlanjur dibentuk oleh lingkungan lama.
Titik terang muncul tiga bulan berselang ketika pihak madrasah meminta doa dan arahan dari almarhum DR. Habib Hasan Al-Habsyi. Sebuah pesan suara dari Habib Hasan yang mengajak umat untuk peduli pada nasib pendidikan di Sinei mengubah segalanya. Donasi mengalir deras dalam waktu singkat, membuktikan bahwa umat selalu merespons inisiatif kebaikan. Bantuan tersebut memungkinkan madrasah berpindah ke gedung Alkhairaat yang sebelumnya merupakan eks MTs.
Tantangan Zaman dan Strategi Bertahan
Saat ini, madrasah menaungi sekitar 115 santri dengan delapan guru dan satu operator. Setelah resmi terdaftar, madrasah ini menerapkan kurikulum utuh dari Pengurus Besar (PB) Alkhairaat, meliputi pelajaran Tauhid, Fiqih, Nahwu Sharaf, Mahfudzat, Imla, hingga Sejarah Alkhairaat.
Kendati demikian, realitas di lapangan tidak selalu linier. Pengamat pendidikan Islam sering menyoroti kendala klasik madrasah pedesaan: mempertahankan minat belajar anak dan disparitas kesejahteraan tenaga pendidik. Anak-anak yang kelelahan akibat sistem sekolah formal seharian penuh menjadi tantangan harian para ustadz dan ustadzah. Untuk menjaga antusiasme tersebut, para guru menerapkan taktik khusus:
- Menyediakan makanan dan minuman ringan selama proses halaqah pembelajaran berlangsung.
- Memberikan hadiah perlengkapan alat tulis bagi santri yang menunjukkan perkembangan positif.
- Membagikan apresiasi berupa uang tunai serta paket buku untuk siswa berprestasi di akhir masa kenaikan kelas.
Di sisi lain, persoalan honorarium guru disiasati dengan penuh kebesaran jiwa. Para pendidik hanya menerima insentif Rp200 ribu per bulan dari Alokasi Dana Desa, yang kemudian ditopang oleh hasil pertanian dari sawah wakaf Alkhairaat. Keyakinan bahwa kebaikan akan memelihara perintisnya membuat mereka tetap istiqamah bertugas.
Menjaga Nyala Lentera Abnaulkhairaat
Ukuran keberhasilan dari ikhtiar ini kini melampaui deretan nilai hafalan. Pencapaian paling esensial terlihat ketika santri mulai berani mengumandangkan azan di masjid desa, mahir menjadi imam, merutinkan tawassul sebelum belajar, serta menunjukkan progres tahfiz—bahkan sudah ada santri yang rampung menghafal satu juz penuh.
Ke depan, cita-cita tertinggi yang ingin diraih bukanlah sekadar perluasan fisik bangunan kelas, melainkan lahirnya sosok penerus. Munculnya generasi Abnaulkhairaat yang tangguh secara mental, berakhlak mulia, dan siap menjaga estafet madrasah saat para pendidik telah tiada, adalah doa yang terus dilangitkan dari sepetak ruang belajar sederhana di pesisir Parigi Moutong.

