Foto Jamaluddin Mariadjang
Jamaluddin Mariadjang
Sekjen
Foto HS. Alwi bin Saggaf Aljufri
HS. Alwi bin Saggaf Aljufri
Ketua Utama
Foto H.S. Mohsen Alaydrus
H.S. Mohsen Alaydrus
Ketua Umum
Kabar Utama
Home » Berita » Menggali Nilai Pancasila di Era Digital: Benteng Pemuda dari Polarisasi

Menggali Nilai Pancasila di Era Digital: Benteng Pemuda dari Polarisasi

Nilai Pancasila

Jari-jemari yang mengetik di layar gawai kini memiliki kekuatan setara dengan peluru tajam; mampu merajut persatuan, namun tak jarang melukai dan memecah belah sendi kehidupan bangsa. Menghadapi algoritma media sosial yang kerap memicu polarisasi serta menggemakan sentimen negatif, peringatan Hari Lahir Pancasila seharusnya ditegakkan lebih dari sekadar seremoni tahunan belaka. Di tengah kegelisahan akan menipisnya adab ketimuran di dunia maya, ALKHAIRAAT terus mengambil peran terdepan mengingatkan pentingnya fondasi moral kebangsaan bagi generasi muda yang hampir seluruh waktu produktifnya tersita di ruang-ruang siber.

Arus globalisasi dan penetrasi internet membawa paradoks tersendiri bagi bangsa Indonesia. Merujuk pada data laporan lanskap digital We Are Social 2024, rata-rata masyarakat menghabiskan lebih dari tiga jam setiap harinya murni untuk berinteraksi di platform sosial. Tingkat konektivitas yang masif ini ternyata tidak selalu berbanding lurus dengan kohesi sosial. Justru, ruang digital kerap disesaki oleh fenomena echo chamber (ruang gema) di mana algoritma menyuapi pengguna dengan informasi yang hanya sesuai dengan keyakinan mereka, mempersempit ruang toleransi, dan menyuburkan benih-benih kebencian berbasis identitas.

Harmonisasi Syariat Islam dan Ideologi Bangsa

Bagi pemuda Muslim, konsepsi nilai Pancasila bukanlah entitas asing atau produk impor yang bertentangan dengan akidah. Kelima sila yang dirumuskan melalui perdebatan panjang para pendiri bangsa—yang di dalamnya terlibat tokoh-tokoh Islam dan ulama besar—sangat bernapas tauhid, menjunjung tinggi ukhuwah (persaudaraan), tradisi syura (musyawarah), dan keadilan sosial. Merawat persatuan di tengah kemajemukan suku, ragam bahasa, dan pandangan politik bukan hanya kewajiban konstitusional, melainkan amanat langsung dari Sang Pencipta alam semesta.

Al-Qur’an secara eksplisit menggarisbawahi fitrah keragaman umat manusia sebagai instrumen agung untuk saling mengenal, berkolaborasi, dan menghargai, sama sekali bukan sebagai alasan untuk menyingkirkan kelompok lain.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Ketua Utama Alkhairaat Adalah Amanah, Ustad Sofyan Lahilote Kenang Pesan Guru Tua

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS. Al-Hujurat: 13)

Keteladanan Guru Tua dalam Mencintai Tanah Air

Historiografi Islam di Nusantara mencatat dengan tinta emas bagaimana para ulama menempatkan agama dan negara dalam satu tarikan napas perjuangan. Pendiri Alkhairaat, Al Habib Idrus bin Salim Al-Jufri (Guru Tua), telah meletakkan cetak biru harmoni kebangsaan ini jauh sebelum proklamasi kemerdekaan bergema. Melalui kiprah dakwah dan syair-syairnya, beliau mengekspresikan kecintaan mendalam terhadap kedaulatan Indonesia.

Guru Tua mengajarkan bahwa mendidik umat melalui jaringan madrasah adalah bentuk perlawanan paling elegan terhadap kebodohan warisan penjajah, sekaligus manifestasi nyata dari cinta tanah air. Semangat kebangsaan yang diwariskan Guru Tua ini membuktikan secara empiris bahwa menjadi seorang Muslim yang taat syariat dan menjadi warga negara yang nasionalis adalah dua identitas yang bersinergi dan saling menguatkan.

Menjadi Pelopor Etika Digital Berlandaskan Pancasila

Membumikan falsafah negara di abad pertengahan informasi menuntut kecakapan literasi digital yang mumpuni serta kedewasaan emosional. Generasi muda diharapkan tidak hanya menjadi konsumen pasif, tetapi bertindak selaku produsen narasi positif. Terdapat langkah strategis yang bisa diimplementasikan pemuda dalam ruang digital:

  • Membudayakan Tabayyun (Verifikasi): Mengejawantahkan sila kedua yang menjunjung adab dan kemanusiaan dengan tidak mudah membagikan informasi provokatif. Memastikan kebenaran sebuah berita sebelum menekan tombol bagikan adalah wujud keadilan agar masyarakat terhindar dari fitnah.
  • Menghindari Debat Kusir Nirfaedah: Demokrasi virtual seringkali terjebak pada caci maki personal. Sila keempat mengamanatkan hikmah kebijaksanaan, menuntut pemuda mengedepankan argumen substantif, berdialog secara konstruktif, serta lapang dada menerima perbedaan opini tanpa merendahkan martabat lawan bicara.
  • Menebar Narasi Empati dan Solidaritas: Membawa semangat sila kelima ke ranah jagat maya dengan menyuarakan pembelaan terhadap kelompok marjinal, mempromosikan inisiatif usaha mikro, serta memotori penggalangan dana kemanusiaan untuk mereka yang tertimpa musibah.
  • Menjaga Kehormatan Agama di Ruang Publik: Menolak eksploitasi simbol-simbol keyakinan untuk kepentingan sesaat yang memicu konflik sosial. Dakwah di media sosial wajib mengedepankan pendekatan yang merangkul dan mencerahkan.

Refleksi Spiritual Penjaga Peradaban Bangsa

Tanggung jawab merawat keutuhan Republik ini seutuhnya bermuara di pundak generasi muda. Perangkat teknologi mutakhir, kecerdasan buatan, maupun platform sosial murni sebuah perkakas hampa; arah dan dampak penggunaannya secara mutlak ditentukan oleh kompas moral yang bersemayam di dalam nurani. Menjadikan kokohnya nilai Pancasila sebagai panduan berbangsa dan kemurnian ajaran Islam sebagai pijakan etika akan melahirkan peradaban generasi yang tangguh menahan gempuran badai dekadensi moral global. Momentum historis lahirnya pandangan hidup bangsa ini menagih pembuktian nyata para pemuda untuk tetap berdiri tegap di garis depan, merajut ukhuwah kebangsaan, dan memastikan kapal besar bernama Indonesia terus berlayar maju melintasi tantangan zaman.

Ustadz Gani Jumat Kenang Pengabdian Habib Saggaf Aljufri Selama 58 Tahun di Alkhairaat