Dunia hari ini menyaksikan ironi yang menyayat hati. Di tengah lompatan teknologi komunikasi yang seharusnya mendekatkan manusia, sentimen rasisme, ujaran kebencian, hingga konflik bersenjata berlatar belakang etnis justru semakin tajam. Menyikapi krisis kemanusiaan ini, redaksi ALKHAIRAAT mengajak kita menengok kembali ke padang tandus Arafah ribuan tahun silam. Di sanalah sebuah cetak biru peradaban manusia yang damai dan berkeadilan dideklarasikan untuk pertama kalinya.
Deklarasi tersebut adalah khutbah perpisahan Rasulullah Muhammad pada momen ibadah haji terakhir beliau. Lebih dari sekadar prosesi ritual, pesan Haji Wada meruntuhkan tatanan jahiliyah yang mengagungkan kebanggaan nasab dan kasta sosial. Pesan esensial ini mengisyaratkan bahwa kemuliaan jiwa tidak diukur dari ketebalan dompet atau warna kulit seseorang.
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al-Hujurat: 13)
Menguatkan hal tersebut, cendekiawan Muslim Syekh Muhammad Sa’id Ramadan al-Buthi dalam mahakaryanya Fiqh as-Sirah an-Nabawiyyah menegaskan bahwa khutbah Rasulullah di Arafah merupakan deklarasi hak asasi manusia universal yang pertama di dunia. Naskah ini mendahului Piagam PBB dan Magna Carta dalam menjamin perlindungan terhadap darah, harta, dan kehormatan setiap individu tanpa kecuali.
Relevansi Etis untuk Mengurai Problematika Modern
Nilai-nilai universal yang digaungkan dari atas unta Al-Qashwa itu menuntut aktualisasi konkret, terutama ketika ketimpangan sosial semakin telanjang di depan mata. Terdapat sejumlah prinsip krusial yang mendesak untuk dihidupkan kembali:
- Penghormatan terhadap Ruang Hidup Manusia: Darah dan harta manusia diikrarkan suci. Eksploitasi ekonomi dan kekerasan fisik atas nama apapun adalah pelanggaran langsung terhadap wasiat Nabi.
- Penghapusan Penindasan Finansial: Rasulullah memulai penghapusan sistem ekonomi eksploitatif semacam riba dari keluarganya sendiri. Hal ini menjadi kritik tajam bagi praktik ekonomi modern yang mencekik kelompok rentan.
- Persaudaraan Tanpa Sekat Primordial: Tidak ada kelebihan orang Arab atas non-Arab. Fanatisme golongan yang hari ini sering memicu persekusi harus dilebur dalam semangat ukhuwah Islamiyah dan wathaniyah.
- Pemenuhan Hak-Hak Perempuan: Di saat peradaban kuno menempatkan perempuan sebagai properti, Rasulullah mewajibkan para suami untuk memuliakan istri, sebuah manifesto kesetaraan yang revolusioner.
Manifestasi Keteladanan Guru Tua
Mengamalkan wasiat perpisahan Rasulullah ini membutuhkan wadah perjuangan nyata. Di tanah Kaili, manifesto kesetaraan dan pemberantasan kebodohan diwujudkan secara brilian oleh Habib Idrus bin Salim Al-Jufri (Guru Tua). Pendiri perguruan Islam terbesar di Indonesia Timur ini mendedikasikan hidupnya untuk membuka akses pendidikan seluas-luasnya tanpa memandang status sosial masyarakat.
Visi pendidikan Guru Tua selaras dengan tuntunan Rasulullah yang menjadikan Al-Qur’an dan Sunnah sebagai pedoman utama. Institusi pendidikan tidak semata dirancang untuk mencetak kaum intelektual, tetapi melahirkan individu bertakwa yang mampu menjadi agen perdamaian, menolak kezaliman, dan mengedepankan keadilan di tengah kemajemukan.
Kompas Navigasi Menuju Peradaban Berkeadaban
Membumikan intisari khutbah Arafah berarti berani membongkar struktur kezaliman di sekitar kita. Ketika narasi kebencian bertebaran di media sosial atau ketidakadilan ekonomi merampas hak kaum mustadhafin, apatisme bukanlah pilihan seorang Muslim sejati. Pesan Rasulullah adalah mandat aktif untuk mencegah keburukan dan memihak pada keadilan.
Warisan kenabian ini memanggil umat untuk merajut kembali tenun kemanusiaan yang terkoyak. Tidak ada resep instan untuk memulihkan dunia dari krisis multidimensinya selain kembali pada nilai takwa dan merawat persaudaraan. Memegang teguh dua pusaka peninggalan Nabi, yakni pedoman Al-Qur’an dan Sunnah, merupakan garansi keselamatan mutlak agar peradaban manusia tidak tersesat dalam gemerlap fatamorgana modernitas.

