Foto Jamaluddin Mariadjang
Jamaluddin Mariadjang
Sekjen
Foto HS. Alwi bin Saggaf Aljufri
HS. Alwi bin Saggaf Aljufri
Ketua Utama
Foto H.S. Mohsen Alaydrus
H.S. Mohsen Alaydrus
Ketua Umum
Kabar Utama
Home » Berita » Mengatasi FOMO dengan Qanaah: Resep Tenang Menghadapi Pameran Maya

Mengatasi FOMO dengan Qanaah: Resep Tenang Menghadapi Pameran Maya

Mengatasi FOMO

Layar gawai seolah menjadi etalase kebahagiaan yang tak pernah tutup sepanjang waktu. Setiap kali ibu jari menggulir layar, mata disajikan deretan pencapaian fantastis, liburan mewah, hingga gaya hidup tanpa cela milik orang lain yang kerap memicu detak jantung berdegup lebih cepat. Kegelisahan menyiksa akibat rutinitas menonton kehidupan orang lain ini dikenal luas sebagai Fear of Missing Out (FOMO). Fenomena psikologis tersebut diam-diam merampas ketenangan jiwa, mengubah manusia menjadi tawanan kecemasan di rumahnya sendiri. Persoalan serius ini tak luput dari perhatian mendalam ALKHAIRAAT sebagai ruang edukasi umat, di mana persoalan kesehatan mental dan kualitas spiritual sejatinya selalu berjalan beriringan.

Akar Kegelisahan di Balik Layar Kemilau

Menatap rumput tetangga yang terus terlihat lebih hijau di linimasa membuat seseorang sangat rentan merasa tertinggal. Sebagaimana ditegaskan oleh Asosiasi Psikologi Amerika Serikat (APA), rutinitas membandingkan pencapaian diri dengan orang lain secara konstan menjadi pemicu utama fluktuasi emosi ekstrem, stres, hingga depresi pada usia produktif. Rasa kurang bersyukur perlahan mengambil alih pikiran, menumbuhkan iri hati kronis, dan menenggelamkan pengguna dalam perlombaan status sosial semu tanpa garis akhir. Banyak yang lupa bahwa apa yang ditampilkan di internet sering kali hanyalah potongan adegan terbaik, bukan realitas utuh yang berliku.

Membumikan Sikap Qanaah dalam Keseharian

Ajaran Islam menawarkan solusi mutlak atas kecemasan modern tersebut melalui fondasi mental yang tangguh bernama qanaah. Merasa cukup dengan pemberian Sang Pencipta tidak lantas mematikan ambisi hidup atau melegitimasi kemalasan beralasan kepasrahan. Sebaliknya, sikap luhur ini merupakan seni tingkat tinggi dalam mengendalikan keinginan liar manusia agar hati tidak diperbudak standar kesuksesan ciptaan sosial. Imam Al-Ghazali dalam karya monumentalnya, Ihya Ulumuddin, menyatakan secara eksplisit bahwa qanaah adalah benteng pertahanan paling kokoh dari sifat tamak duniawi. Sikap ini mendidik seorang Muslim memusatkan perhatian pada piringnya sendiri, mensyukuri nikmat sekecil apa pun, dan meyakini presisi takdir Allah.

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ وَرُزِقَ كَفَافًا وَقَنَّعَهُ اللَّهُ بِمَا آتَاهُ

Sungguh beruntung orang yang masuk Islam, diberi rezeki yang cukup, dan Allah menjadikannya merasa cukup (qanaah) dengan apa yang diberikan kepadanya. (HR. Muslim)

Ketua Utama Alkhairaat Adalah Amanah, Ustad Sofyan Lahilote Kenang Pesan Guru Tua

Langkah Praktis Menumbuhkan Rasa Cukup

Meredam godaan validasi maya membutuhkan latihan disiplin harian yang konsisten. Ada beberapa langkah konkret yang bisa langsung diaplikasikan untuk merebut kembali kedamaian pikiran dari ruang digital:

  • Membatasi Asupan Visual: Melakukan detoks media sosial secara berkala atau sekadar memilah serta membisukan akun-akun pemicu rasa tidak aman terbukti efektif menjaga kewarasan pikiran.
  • Menundukkan Pandangan pada Urusan Dunia: Biasakan melihat kondisi materi mereka yang kurang beruntung di sekitar kita untuk memantik empati sekaligus rasa syukur mendalam atas karunia harian.
  • Investasi pada Pertumbuhan Diri: Alihkan energi mental dari memantau jalan cerita kehidupan orang lain menjadi aksi nyata meningkatkan kapasitas keilmuan maupun spiritual pribadi.

Keteladanan Sunyi Mutiara dari Timur

Nilai kepuasan hati dan ketundukan pada ketetapan Ilahi sejatinya sangat sejalan dengan jalan hidup pendiri Alkhairaat, Sayyid Idrus bin Salim Al-Jufri, atau yang akrab disapa Guru Tua. Dalam lintasan sejarah dakwahnya di kawasan timur Nusantara, beliau mencontohkan dedikasi sunyi dari hiruk-pikuk pencarian validasi dan sanjungan duniawi. Fokus Guru Tua murni ditujukan untuk membangun peradaban umat melalui ratusan madrasah, tanpa memedulikan panggung tepuk tangan materi. Keteladanan agung ini memberikan pesan tersirat bahwa karya monumental lintas generasi selalu lahir dari ketenangan hati yang penuh keridhaan, bukan dari jiwa rapuh yang gelisah mengejar ketenaran artifisial.

Merdeka Sepenuhnya dari Penjara Ekspektasi Sosial

Pada titik pencapaian spiritual tertinggi, kemerdekaan sejati baru akan diraih ketika seseorang benar-benar tak lagi membutuhkan apresiasi audiens maya untuk merasa berharga. Perasaan cukup yang tertanam kuat akan berubah wujud menjadi perisai baja dari hantaman ekspektasi sosial yang tidak rasional. Memilih untuk sepenuhnya mensyukuri porsi rezeki masing-masing merupakan deklarasi kemenangan seorang hamba atas tipu daya hawa nafsunya sendiri. Algoritma dunia maya memang akan terus menggoda dengan menawarkan gemerlap yang menyilaukan, namun hati yang diselimuti kemuliaan qanaah akan selalu menemukan kompas untuk pulang menuju ketenangan abadi dalam dekapan kasih sayang Ilahi.