PALU, ALKHAIRAAT – Akademisi dari Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Dr. Setya Haksama, mengusulkan agar UNISA Palu membuka Program Studi (Prodi) Manajemen Bencana. Usulan ini bertujuan memperkuat kapasitas sumber daya manusia dalam menghadapi risiko kebencanaan di wilayah Sulawesi Tengah.
Gagasan tersebut disampaikan saat Setya berdiskusi dengan Rektor UNISA Palu, Dr. Muhammad Yasin, di ruang kerja rektor pada Selasa (23/06). Pertemuan ini turut dihadiri jajaran pimpinan rektorat dan Fakultas Kedokteran kampus setempat.
Rektor menyambut positif usulan pembentukan prodi baru beserta Disaster Risk Reduction Center (DRRC). Menurutnya, langkah ini sangat relevan dengan kondisi geografis Sulawesi Tengah yang memiliki tingkat kerawanan bencana cukup tinggi.
“Kehadiran Dr. Setya Haksama di sini menjadi ruang diskusi yang produktif mengenai berbagai isu strategis, khususnya pengembangan pendidikan kesehatan masyarakat serta tantangan manajemen bencana yang relevan dengan kondisi Sulawesi Tengah saat ini,” ujar Muhammad Yasin, Rektor UNISA Palu.
Setya menilai Sulawesi Tengah memiliki pengalaman panjang dalam menghadapi berbagai bencana alam. Oleh karena itu, daerah ini membutuhkan penguatan kapasitas khusus pada aspek mitigasi, kesiapsiagaan, respons, hingga pemulihan pascabencana yang didukung oleh akademisi.
Kehadiran Setya di UNISA Palu sebelumnya adalah sebagai dosen tamu dalam kuliah Blok Ilmu Kesehatan Masyarakat (IKM) di Fakultas Kedokteran. Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya fakultas untuk memperkaya proses pembelajaran mahasiswa dengan praktisi berpengalaman.
“Kuliah tamu yang diberikan dalam Blok IKM menjadi salah satu bentuk komitmen Fakultas Kedokteran dalam menghadirkan pembelajaran yang kontekstual dan relevan dengan kebutuhan masyarakat,” kata dr. Ali Palanro, Wakil Dekan II Fakultas Kedokteran UNISA Palu.
Pihak kampus berharap berbagai gagasan yang muncul dalam pertemuan tersebut dapat segera ditindaklanjuti. Pembentukan Prodi Manajemen Bencana diharapkan memberikan kontribusi nyata bagi peningkatan kapasitas sumber daya manusia kesehatan di masa mendatang.

