Foto Jamaluddin Mariadjang
Jamaluddin Mariadjang
Sekjen
Foto HS. Alwi bin Saggaf Aljufri
HS. Alwi bin Saggaf Aljufri
Ketua Utama
Foto H.S. Mohsen Alaydrus
H.S. Mohsen Alaydrus
Ketua Umum
Kabar Utama
Home » Berita » Perjuangan Guru Tua Bangun Pendidikan Bangsa Sebelum Indonesia Merdeka

Perjuangan Guru Tua Bangun Pendidikan Bangsa Sebelum Indonesia Merdeka

Guru Tua

PALU, ALKHAIRAAT – Ustadz Dr. Abdul Gani Jumat menegaskan bahwa perjuangan pendiri Alkhairaat, Sayyid Idrus bin Salim Aljufri atau Guru Tua, dalam membangun pendidikan Islam merupakan bagian nyata dari perjuangan membangun bangsa. Hal ini beliau sampaikan pada acara Munajat Akbar Milad ke-99 Alkhairaat di Kompleks Alkhairaat, Kota Palu, Jumat (24/07) malam.

Abdul Gani menjelaskan bahwa arah pergerakan lembaga ini tetap berada pada jalur yang diwariskan Guru Tua sejak berdiri pada 11 Juni 1930. Berdasarkan data terbaru, pusat pendidikan tersebut telah berkembang pesat menjadi sekitar 1.700 cabang madrasah dan 127 pondok pesantren di berbagai daerah.

“Jejak sejarah Guru Tua mengajarkan kepada kita bahwa jihad fi sabilillah tidak pernah dibatasi oleh fasilitas. Dengan segala keterbatasan, beliau mampu membangun ratusan madrasah yang tersebar di empat hingga lima provinsi,” kata Abdul Gani Jumat, Dekan Fakultas Sains dan Teknologi UIN Datokarama Palu.

Dekan Fakultas Sains dan Teknologi UIN Datokarama Palu tersebut menilai capaian itu membuktikan cita-cita pendidikan Islam terus hidup. Ia mengingatkan bahwa madrasah ini berdiri 15 tahun sebelum proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia berkumandang.

“Guru Tua membangun bangsa melalui pendidikan sebelum negara ini ada. Karena itu, ketika beliau diusulkan menjadi Pahlawan Nasional, tidak tepat jika ada yang mempertanyakan hal-hal administratif seperti keberadaan KTP. Pada saat itu negara belum berdiri,” kata Abdul Gani Jumat, Dekan Fakultas Sains dan Teknologi UIN Datokarama Palu.

Milad ke-99 Alkhairaat, Ketua Utama Tegaskan Bukti Kesuksesan Bukan dari Jumlah Sekolah

Terdapat dua faktor utama yang membuat ajaran lembaga pendidikan ini tetap kokoh hingga usia hampir satu abad. Faktor pertama adalah fondasi ideologi Ahlussunnah wal Jamaah yang moderat dalam kehidupan beragama dan bernegara, dengan mengikuti pemikiran Imam Abu Hasan Al-Asy’ari serta Mazhab Syafi’i.

“Ini menjadi rahasia mengapa Alkhairaat tetap kokoh, terawat, dan mampu menjaga persatuan hingga hari ini,” kata Abdul Gani Jumat, Dekan Fakultas Sains dan Teknologi UIN Datokarama Palu.

Faktor kedua adalah keteladanan pendiri lembaga ini dalam mendidik murid tanpa menggunakan kekerasan fisik. Bentuk hukuman yang diberikan pada masa lalu lebih bersifat edukatif dan psikologis, seperti menepuk bahu murid dengan sorban atau menunda kesempatan membaca kitab saat halaqah.

“Di Alkhairaat tidak ada sejarah guru memukul murid dengan benda keras. Guru Tua mendidik dengan kasih sayang dan keteladanan. Inilah yang harus dicontoh seluruh guru di madrasah Alkhairaat,” kata Abdul Gani Jumat, Dekan Fakultas Sains dan Teknologi UIN Datokarama Palu.

Berbagai kesaksian murid senior menunjukkan bahwa seluruh perilaku tokoh kharismatik ini selalu berpedoman pada sunnah Rasulullah SAW. Nilai perjuangan, moderasi, dan akhlak mulia tersebut diharapkan terus dijaga oleh generasi penerus di masa mendatang.

PB Alkhairaat Jadikan Digitalisasi dan Ekonomi Syariah Senjata Utama Sambut Abad Kedua