Foto Jamaluddin Mariadjang
Jamaluddin Mariadjang
Sekjen
Foto HS. Alwi bin Saggaf Aljufri
HS. Alwi bin Saggaf Aljufri
Ketua Utama
Foto H.S. Mohsen Alaydrus
H.S. Mohsen Alaydrus
Ketua Umum
Kabar Lain
Home » Berita » Temuan Dosen Unisa dan Unsimar, Mikroba Bawang Merah Palu Ternyata Tahan Tekanan Insektisida Intensif

Temuan Dosen Unisa dan Unsimar, Mikroba Bawang Merah Palu Ternyata Tahan Tekanan Insektisida Intensif

mikroba bawang merah lokal Palu

PALU, ALKHAIRAAT – Tim dosen dari Universitas Alkhairaat (Unisa) Palu dan Universitas SIntuvu Maroso (Unsimar) Poso, berhasil menemukan tiga jenis mikroba bawang merah lokal Palu yang tetap hidup meski di bawah tekanan insektisida intensif.

Penelitian yang dilakukan oleh Hasmari Noer, Sri Sudewi, If’all, dan Abdul Rahim Saleh ini menjadi terobosan penting dalam pengelolaan agroekosistem pertanian di Sulawesi Tengah.

Hasil riset tersebut menunjukkan bahwa penggunaan bahan kimia pengendali organisme pengganggu tanaman tidak serta merta menghilangkan keberadaan mikroorganisme tanah.

Terdapat mikroba tertentu yang memiliki kemampuan adaptasi tinggi sehingga mampu bertahan dan berkembang pada lingkungan yang terpapar bahan kimia pertanian secara terus menerus.

Keberadaan mikroba bawang merah lokal Palu ini dinilai krusial karena mikroorganisme tanah berperan menjaga keseimbangan ekosistem. Mikroba berkontribusi pada penguraian bahan organik, siklus hara, serta mendukung produktivitas tanah yang telah mengalami degradasi akibat paparan zat kimia jangka panjang.

Ketua Utama Alkhairaat Dorong Petani Milenial Kembangkan Pertanian Organik

“Ketiga mikroba tersebut adalah Aspergillus niger, Trichoderma asperellum, dan Bacillus cereus, temuan ini sudah kami publish di jurnal International Journal of Agriculture and Biosciences (IJAB), jurnal internasional bereputasi kuartil dua (Q2), yang merupakan bagian dari penelitian kami yang berjudul Soil-Plant-Microbe Interactions under Insecticide Pressure,” kata Dr.Ir. If’all, M.Si, salah seorang peneliti.

Aspergillus niger berfungsi sebagai pengurai bahan organik, sedangkan Trichoderma asperellum dikenal mampu menekan patogen penyebab penyakit pada akar tanaman.

Sementara itu, Bacillus cereus yang umum ditemukan di tanah pertanian masih memerlukan identifikasi lebih lanjut hingga tingkat strain untuk memastikan keamanan hayatinya sebagai agen pendukung pertumbuhan.

“Sebagian mikroba memang masih mampu bertahan, tetapi tanah tetap menunjukkan tanda-tanda tekanan. Temuan mikroba tersebut menjadi titik awal bagi kami untuk mencari kemungkinan solusi pemulihan fungsi tanah,” jelas Sri Sudewi, pakar mikroba.

Riset ini juga membandingkan empat kategori lahan berdasarkan intensitas penggunaan insektisida. Tim menemukan bahwa lahan dengan tekanan kimia tinggi mengalami penurunan drastis pada indikator kesuburan tanah, termasuk fosfor tersedia yang merosot hingga 85,95 persen dan kalium tersedia sebesar 63,08 persen.

Raih Gelar Doktor, Dosen Unisa Teliti Pembelajaran Akidah Akhlak MA Alkhairaat

Kapasitas tukar kation tanah, yang mencerminkan kemampuan tanah menyimpan unsur hara, juga menyusut sekitar 55,20 persen.

Kondisi ini memperkuat kebutuhan akan aplikasi mikroba bawang merah lokal Palu untuk memperbaiki fungsi biologis tanah yang telah terpapar zat kimia berat.

Tahap penelitian berikutnya akan menguji aplikasi mikroba ini dalam bentuk tunggal maupun konsorsium untuk memulihkan kesehatan lahan.

Harapannya, penggunaan mikroba terpilih dapat membantu meningkatkan ketersediaan unsur hara serta mendukung produktivitas bawang merah secara berkelanjutan tanpa merusak lingkungan. IWANLAKI

HUT ke-81 RI MA Alkhairaat Palu Meriah dengan Parade Busana Nusantara