Foto Jamaluddin Mariadjang
Jamaluddin Mariadjang
Sekjen
Foto HS. Alwi bin Saggaf Aljufri
HS. Alwi bin Saggaf Aljufri
Ketua Utama
Foto H.S. Mohsen Alaydrus
H.S. Mohsen Alaydrus
Ketua Umum

Biografi Guru Tua Habib Idrus bin Salim Aljufri

Home » Biografi Guru Tua Habib Idrus bin Salim Aljufri

Sang Singa Dakwah dari Hadramaut

Lentera Ilmu dari Lembah Tarim

Ketika sebagian besar wilayah Indonesia Timur masih terisolasi dari akses pendidikan formal yang memadai di awal abad ke-20, seorang pria paruh baya dengan sorban putih melangkah turun dari kapal di pelabuhan kecil Wani, Donggala. Beliau tidak membawa komoditas dagang, melainkan tumpukan kitab dan sebuah visi besar yang kelak mengubah peta peradaban Islam di nusantara. Tokoh tersebut adalah Habib Sayyid Idrus bin Salim Aljufri, yang di kemudian hari dicintai dan dikenang oleh jutaan umat dengan sebutan luhur: Guru Tua.

Dilahirkan di Tarim, Hadramaut, Yaman, pada tanggal 14 Syakban 1309 Hijriah, garis keturunan Guru Tua bersambung langsung kepada Rasulullah SAW melalui jalur Sayyidina Husain RA. Dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang haus akan ilmu, ayah beliau, Habib Salim bin Alwi Aljufri, merupakan seorang mufti di kota tersebut. Ketajaman intelektual Guru Tua sudah nampak sejak belia; beliau tercatat telah menghafal Al-Qur’an pada usia 12 tahun dan menguasai berbagai cabang disiplin ilmu agama, mulai dari fiqih, tafsir, hingga sastra Arab sebelum menginjak usia dewasa.

Arus Hijrah dan Perlawanan Sunyi di Tanah Kolonial

Langkah kaki Guru Tua menuju nusantara bukanlah sebuah kebetulan, melainkan takdir dakwah yang dirancang matang. Setelah melakukan perjalanan ke beberapa wilayah seperti Pekalongan dan Jombang di pulau Jawa, ketajaman spiritual beliau melihat bahwa wilayah Timur Indonesia lebih membutuhkan sentuhan pembaharuan pendidikan. Situasi masyarakat saat itu sangat memprihatinkan akibat cengkeraman penjajahan yang sengaja memelihara kebodohan guna meredam perlawanan.

Menghadapi realitas tersebut, Guru Tua mengimplementasikan strategi dakwah yang revolusioner pada zamannya. Beliau meyakini bahwa pembebasan hakiki dimulai dari meja-meja madrasah. Langkah ini selaras dengan sabda Rasulullah SAW:

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

Siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.

Semangat hadis riwayat Imam Muslim inilah yang mendasari keputusan berani beliau untuk menetap di Palu dan mendirikan institusi pendidikan murni bagi pribumi.

Mendirikan ALKHAIRAAT: Memahat Karakter Umat

Tepat pada 11 Juni 1930, bertempat di sebuah rumah sederhana milik tokoh lokal Haji Daeng Marocca di Kampung Baru, Palu, Guru Tua secara resmi membuka madrasah pertama yang dinamakan ALKHAIRAAT. Beliau bertindak langsung sebagai pengajar utama, menyusun kurikulum, hingga mendanai operasional sekolah dari kantong pribadinya sendiri melalui usaha perdagangan yang beliau jalankan secara paralel.

Metode pengajaran Guru Tua dikenal sangat sejuk, inklusif, namun memegang teguh prinsip akidah Ahlussunnah Wal Jamaah. Beberapa pilar utama yang menjadi karakteristik perjuangan beliau selama memimpin lembaga ini antara lain:

  • Egalitarianisme Pendidikan: Membuka pintu madrasah untuk seluruh lapisan masyarakat, baik kaum bangsawan maupun rakyat jelata, tanpa memandang status sosial.
  • Kemandirian Ekonomi: Mengajarkan para murid dan pengurus untuk berdikari secara finansial agar institusi tidak mudah diintervensi oleh pihak luar atau pemerintah kolonial.
  • Pemberdayaan Perempuan: Menjadi salah satu pelopor pembukaan kelas khusus wanita (Madrasah Awaliyah Alkhairaat Lil Banaat) guna mencetak ibu-ibu generasi masa depan yang berpendidikan tinggi.

Warisan Abadi Sang Guru Bangsa

Hingga akhir hayatnya pada tanggal 12 Syawal 1389 Hijriah (22 Desember 1969), Guru Tua tidak pernah berhenti mengajar. Bahkan dalam kondisi fisik yang kian melemah di usia senja, beliau tetap meminta para santri untuk membacakan kitab di dekat pembaringannya. Dedikasi total tanpa batas ini membuat kepergian beliau ditangisi oleh puluhan ribu masyarakat yang memadati jalanan kota Palu saat prosesi pemakaman.

Warisan spiritual dan intelektual Habib Idrus bin Salim Aljufri terbukti melampaui batas usianya. Kini, ribuan madrasah, jaringan sekolah, panti asuhan, hingga universitas yang berdiri kokoh di bawah naungan lembaga yang beliau dirikan menjadi saksi bisu dari keikhlasan perjuangan seorang ulama. Menatap masa depan, biografi dan keteladanan Guru Tua akan terus menjadi kompas moral bagi generasi muda Islam di Indonesia Timur untuk terus merawat api literasi, memperkuat ukhuwah, dan menegakkan kejayaan syiar Islam yang rahmatan lil ‘alamin.